image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Artikel

Si Patu' Penakluk Leang Pute

Pak Patu' simbol kehidupan yang selaras dengan alam. Mereka saling menjaga dan hidup dengan harmonis| Foto: Tahari.

Sebuah gua vertikal yang dalamnya sekitar 260-270 meter, tentu bukanlah sebuah gua biasa. Jika dibandingkan dengan Monas yang tingginya hanya 137meter, itu berarti gua ini kedalamannya hampir dua kali tinggi Monas. Wajarlah, jika kemudian gua ini menjadi gua terdalam kedua di Indonesia setelah gua Hatu Saka di Kepulauan Maluku (-388 meter). Walaupun demikian, gua ini menjadi gua “single pitch” terdalam di Indonesia.

Leang Pute, demikian lokasi ini disebut. Bagi pencinta caving, Leang Pute bukanlah nama yang asing bagi mereka. Mulut gua Leang Pute berada di Dusun Pattiro, Desa Labuaja, namun lajur guanya lebih banyak berada di dalam wilayah Desa Wisata Samangki, Kabupaten Maros Sulawesi Selatan. Wilayah ini masuk dalam Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Perjalanan dimulai dari Bantimurung dengan menggunakan mobil patroli menuju lokasi tujuan. Cuaca hari itu kurang bersahabat buat kami yang mengadakan perjalanan jauh. Dusun Pattiro Desa Labuaja Kecamatan Bantimurung Kab. Maros adalah titik awal perjalanan, kondisi jalan yang menanjak menuju lokasi menambah ketegangan perjalanan.

Untuk menuju ke leang pute, jalan yang dilalui dengan menyusuri daerah persawahan dan kebun. Namun untuk menuju kesana tak satu pun dari kami yang mengetahui persis letak Leang Pute. Disebabkan ada banyak alternatif jalan yang bisa dilalui menuju ke sana. Hanya ada 1 orang yang mengenal betul lokasi Leang Pute berada—dialah Pak Patu.  Didampingi petugas TN. Babul kami menjemput Pak Patu’ yang saat itu sedang berladang. Waktu yang kami tempuh ke tempat Pak Patu’ sekitar 1 jam.

Mulut Gua Leang Pute berdiameter 50-80 meter, pintu masuk yang sempurna untuk melihat keindahan alam di kedalaman yang gua yang menjadi ekosistem bagi aneka tumbuhan dan hewan-hewan gua | Foto: Lawalata IPB.

Sosok Seram yang Bersahaja

Ketika tiba di ladang tempatnya bekerja, kesan pertama kali saat melihat pak Patu adalah sosoknya “seram”, yang barangkali merupakan pancaran dari sikapnya yang pekerja keras. Patu’ adalah masyarakat asli Desa Labuaja yang juga merupakan orang yang dihormati di desa tersebut.

Sehari-hari Patu’ menghabiskan waktunya untuk berkebun, dant tentu saja menjadi guide bagi pencinta penelusur gua yang ingin menjajal keindahan Leang Pute. Sosoknya kecil dengan rambut gondrong  serta jenggotnya yang berwarna putih menambah ke seramannya. Layaknya orang desa dengan penampilannya yang sederhana dengan baju yang agak “lusuh”  dan syal plastik kebanggaannya itulah gambaran “sosok penakluk” Leang Pute. Namun ketika kami mulai mengobrol hilanglah sosok “seram”. Orangnya sangat ramah dan menyambut kedatangan kami dengan senyum yang mengembang.

Dengan senang hati dia mengantarkan kami dan rela meninggalkan kebunnya. Saat itu sedang hujan sehingga medan yang kami tempuh berlumpur dan beberapa jalan licin yang mana sebagian besar adalah batuan kars. Sungguh butuh tenaga yang lebih untuk mencapai Leang Pute. Namun bagi Pak Patu yang sehari-harinya harus berjalan tanpa menggunakan alas kaki hal itu sangatlah mudah.

Berdasarkan cerita dari Pak Patu dia dapat mencapai lokasi leang pute hanya memakan waktu ± 30 menit. Tapi untuk pemula seperti saya waktu tempuh ± 1, 5 jam. Hal yang menurut saya luar biasa tanpa memakai alas kaki bisa secepat itu. Bahkan sewaktu ada mahasiswa yang akan melakukan kegiatan caving di Leang Pute, Pak Patu mampu mengangkat sekaligus tabung 12 kg dan beberapa liter air untuk keperluan logistik mahasiswa tersebut. Padahal dilihat dari badannya yang kecil, tak banyak yang menyangka ia bisa melakukan hal tersebut. Terkadang tanpa bermaksud pamer, dia bahkan menunjukkan kemampuan berdiri di batuan kars yang licin dan bahkan tidur diatasnya. Menurutnya dia pernah turun ke dasar gua tanpa menggunakan alat caving hanya mengandalkan serabut   pohon. Sungguh hal yang mustahil bagi orang biasa tanpa menggunakan alat dan keahlian.

Sketsa tampak samping Gua leang pute.

Perjalanan melelahkan yang diselingi dengan percakapan-percakapan ringan dengan Pak Patu, membuat kami tak terasa telah berada di mulut gua. Lelah terbayar ketika kami telah melihat mulut gua Leang Pute, pemandangan kars yang berwarna putih sangat menakjubkan. Mulut Gua Leang Pute sendiri, berdiameter 50-80 meter.

Kami hanya bisa mengambil gambar di sekitar mulut gua saja karena tidak adanya peralatan dan keahlian khusus caving. Ketika kami mencoba membuang batu ke dasar gua dibutuhkan waktu 7 detik sampai batu tersebut sampai ke dasar gua pertama. Dikutip dari pengalaman mahasiswa Himpala Unhas yang pernah melakukan kegiatan caving membutuhkan waktu lebih 1 jam sampai ke dasar gua, dan setidaknya dibutuhkan waktu 2 jam untuk naik kembali ke atas.

Leang Pute dan Pak Patu bagi kami menyadarkan pentingnya keseimbangan alam. Mereka berdua saling menjaga. Pak Patu sebagai simbolisasi masyarakat sekitar menjaga Leang Pute, dan Leang Pute pun bersahabat dengannya. Bahkan “menginjinkan Pak Patu untuk menuruninya tanpa alat. Pak Patu’ telah belajar pada alam, bagaimana bersahabat dengan mereka. Demikianlah kodrat alam, akan menjaga kita, selama kita menjaga alam.

Penulis: Fatmiah N., S.Hut  (PEH pada Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung)