image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Artikel

Pendugaan Cadangan Karbon TN. Bantimurung Bulusaraung

Hutan Karst TN. Bantimurung Bulusaraung | Foto: Kama Jaya Shagir.

Hutan alami merupakan penyerap dan penyimpan karbon (C) tertinggi bila dibandingkan dengan sistem penggunaan lahan lainnya, dikarenakan keragaman pohonnya yang tinggi, kerapatan tumbuhan bawah, dan seresah di permukaan tanah yang banyak. Bila hutan diubah fungsinya atau menurun kerapatannya maka jumlah C tersimpan akan berkurang atau bahkan hilang (Hairiah dan Rahayu 2007). Menurut FAO, jumlah total vegetasi hutan Indonesia menghasilkan lebih dari 14 miliar ton biomassa, jauh lebih tinggi daripada negara-negara lain di Asia dan setara dengan 20% biomassa di seluruh hutan tropis di Afrika. Jumlah biomassa ini secara kasar menyimpan 3,5 milliar ton karbon (FWI 2003).

Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN. Babul) di Kabupaten Maros dan Pangkep berupa tipe ekosistem hutan bukit kapur (limestone forest), ekosistem hutan hujan non dipterocarpaceae pamah dan hutan pegunungan bawah yang memiliki potensi sumberdaya alam hayati dengan keanekaragaman yang tinggi serta keunikan dan kekhasan gejala alam dengan fenomena alam yang indah. Kawasan konservasi ini ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 398/Menhut-II/2004 tanggal 18 Oktober 2004 seluas ± 43.750 hektar memiliki banyak fungsi seperti perlindungan ekosistem sebagai penyangga kehidupan, tangkapan air bagi kawasan di bawahnya (catchment area), dan berpotensi untuk ekowisata serta memberikan manfaat yang besar bagi wilayah sekitarnya. Salah satu peranan TN. Babul sebagai fungsi perlindungan dalam konteks perubahan iklim adalah sebagai penyimpan karbon/rosot karbon (carbon sink) yaitu vegetasi hidup di dalam hutan melalui proses fotosintesis mampu menyerap gas CO2 dan menyimpannya dalam bentuk biomasa.

Hutan Hujan Non Dipterocarpaceae Pamah TN. Bantimurung Bulusaraung | Foto: Kama Jaya Shagir.

Cadangan karbon pada suatu tipe ekosistem hutan dipengaruhi oleh jenis vegetasinya. Suatu tipe ekosistem hutan yang terdiri dari pohon dengan spesies yang mempunyai nilai kerapatan kayu tinggi, biomasanya akan lebih tinggi bila dibandingkan dengan tipe ekosistem hutan yang mempunyai spesies dengan nilai kerapatan kayu rendah. Spesies pohon di hutan primer dan hutan sekunder hutan pegunungan bawah dan hutan hujan non dipterocarpaceae Pamah di TN. babul mempunyai nilai tengah kerapatan kayu yang relatif tinggi yaitu 0,68 g/cm3, sedangkan pada hutan primer dan sekunder hutan batu kapur 0,65 g/cm3.

Keberadaan pohon yang berdiameter > 30 cm pada tipe ekosistem hutan, memberikan sumbangan yang cukup berarti terhadap total cadangan karbon. Pada hutan primer hutan hujan non dipterocarpaceae pamah di TN. Babul 40–41 % dari total biomasa berasal dari pohon yang berdiameter > 30 cm (pohon besar), sedangkan pohon yang berdiameter antara 5-30 cm (pohon sedang) hanya sekitar 12-18%. Sebaliknya pohon yang berdiameter antara 5-30 cm memberikan sumbangan cadangan karbon sebanyak 49% dari total karbon pada hutan pegunungan bawah,  sedangkan pohon yang berdiameter berdiameter > 30 cm hanya 12%.

Hutan Pegunungan Bawah TN. Bantimurung Bulusaraung | Foto: Iskandar.

Berdasarkan hasil perhitungan pendugaan biomassa dan cadangan karbon pada tipe ekosistem hutan TN. Babul memiliki kisaran biomasssa sebesar 87,15−483,54 ton/ha dan cadangan karbon sebesar 74,29−244,82 ton/ha. Biomassa dan cadangan karbon tertinggi diperoleh dari hutan primer hutan hujan non dipterocarpaceae pamah memiliki kisaran biomasssa sebesar 382,48−483,54 ton/ha dan cadangan karbon sebesar 209,09−244,82 ton/ha. Sedangkan biomassa dan cadangan karbon terendah dimiliki oleh hutan primer bukit karst pada pada habitat lereng atas (Lapisan tanah tebal) memiliki kisaran biomassa sebesar 87,15 − 111,92  ton/ha dan cadangan karbon sebesar 74,29−94,91 ton/ha.

Lasco et al. (2004) menyatakan bahwa secara umum cadangan karbon pada hutan alam di Asia Tenggara lebih dari 200 ton/ha. Sularso NMG (2011) menyebutkan cadangan karbon hutan primer dan sekunder di Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) sebesar 120,93 ton/ha dan 106,61 ton/ha. Bila membandingkan cadangan karbon hutan primer dan sekunder TN. Babul dan TNMB, maka hutan primer dan sekunder hutan hujan non dipterocarpaceae pamah TN. Babul memiliki cadangan karbon di atas permukaan tanah yang lebih besar, yaitu hutan primer rata-rata sebesar 171,53 ton/ha dan hutan sekunder sebesar 138,16 ton/ha. Pada hutan dataran rendah Nunukan Kalimantan Timur oleh Lusiana et al. (2005) menunjukkan cadangan karbon di atas permukaan tanah hutan primer sebesar 230,1 ton/ha dan hutan sekunder sebesar 212,9 ton/ha. Hasil perhitungan karbon hutan primer dan sekunder di Nunukan jauh lebih besar dibandingkan dengan hasil perhitungan cadangan karbon diatas permukaan tanah hutan primer dan sekunder hutan hujan non dipterocarpaceae Pamah TN. Babul.

Hasil perhitungan cadangan karbon hutan primer hutan bukit kapur TN. Babul memiliki nilai cadangan karbon rata-rata sebesar 91,68 ton/ha. Nilai tersebut lebih kecil dibandingkan hasil perhitungan cadangan karbon hutan sekunder hutan bukit kapur (hutan bekas tebangan 31-50 tahun) TN. Babul yang memiliki nilai cadangan karbon rata-rata sebesar 100,98 ton/ha. Kondisi tersebut dikarenakan nilai rata-rata nekromassa, serasah dan kandungan karbon tanah hutan sekunder hutan bukit kapur TN. Babul lebih besar dibandingkan hutan primer hutan bukit kapur TN. Babul.

DAFTAR PUSTAKA[FWI/GFW]. 2003. Potret Keadaan Hutan Indonesia. Bogor, Indonesia: Forest Watch Indonesia dan Washington D.C, Global Forest Watch, Edisi 3.

Hairiah K, Rahayu S. 2007. Pengukuran ‘Karbon Tersimpan’ di Berbagai Macam Penggunaan Lahan. Bogor. World Agroforestry Centre – ICRAF, SEA Regional Office, University of Brawijaya, Indonesia.

Lasco RD, Pulhin FB, Roshetko JM, Banactila MRN. 2004. LULUCF Climate Change Mitigation Project in the Philippines: a Primer. World Agroforestry Centre. Southeast Asia Regional Research Programme.

Lusiana B, Van Noordwijk M, Rahayu S. 2005. Carbon Stock in Nunukan, East Kalimantan: A Spatial Monitoring and Modelling Approach. Report from the carbon monitoring team of the Forest Resources Management for Carbon Suquestration (FORMACS) project. Bogor, Indonesia. World Agroforestry Centre – ICRAF, SEA Regional Office.

Shagir KJ, Chaeril, Fatmiah N., Syachrir M, Bachri S, Negara AW, Surapil, Sulkarnain, Wira MR, Yunus M. 2012. Identifikasi Jasa Lingkungan: Pendugaan Cadangan Karbon Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung di Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Sularso MNG. 2011. Pendugaan Cadangan Karbon di Taman Nasional Meru Betiri [skripsi]. Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.
Penulis: Kamajaya Shagir