image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Artikel

Hydrosaurus Seperti Dinosaurus Yah??

Soa-soa (Hydrosaurus amboinensis) dapat dijumpai di atas pohon di kawasan Pattunuang, TN. Bantimurung Bulusaraung | Foto: Taufik Ismail.

Ternyata Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) memiliki banyak potensi. Yang terlintas di benak masyarakat awam jika menyebut nama Bantimurung, identik dengan air terjunnya. Jika tidak terutama bagi wisatawan nusantara keberadaan taman nasional yang kawasannya berada di Kabupaten Maros dan Pangkajene Kepulauan ini lebih identik dengan kupu-kupunya. Jika mau menggali potensi lebih dalam lagi ternyata di kawasan konservasi ini juga terdapat potensi wisata lainnya. Sebut saja Objek Wisata Pattunuang, Taman Prasejarah Leang-leang, penelusuran gua alam, pendakian puncak gunung Bulusaraung dan beberapa tempat potensial lainnya.

Sebagai alternatif tujuan wisata setelah Bantimurung, ternyata objek wisata alam Pattunuang tak bisa dipandang sebelah mata. Objek wisata yang identik dengan tarsiusnya akhir-akhir ini pada kenyataannya memiliki beberapa objek lain yang menarik. Sebut saja Bisseang Labboro (bislab), kupu-kupu yang berada di pinggiran sungai, tebing karst yang berada di sisi kanan objek wisata ini, serta beberapa gua alam.

Tak cukup rasanya jika hanya berkunjung sehari di objek wisata yang berada di pinggiran jalan poros menuju Kabupaten Bone ini.  Beberapa waktu yang lalu pada pertengahan bulan Februari 2013, saya bersama beberapa teman lain berkunjung ke objek wisata yang telah lama dikembangkan ini. Niat awal berkunjung adalah untuk mengidentifikasi potensi yang berada di objek wisata yang terletak di Kelurahan Simbang ini. Saya menemui beberapa hal yang perlu dibenahi jika objek wisata ini serius ingin dikembangkan. Penangkaran kupu-kupu, jalan trail, dan jembatan penyebrangan menuju Bislab membutuhkan perhatian serius.

Satu hal yang membuat saya surprise kala itu, yakni berjumpa dengan soa-soa. Begitu masyarakat yang bermukim di pinggiran kawasan TN Babul itu menyebutnya. Pengarainya yang lincah dan selalu waspada, mengharuskan saya tak leluasa bergerak untuk membuatnya tetap diam.  Berjumpa pertama dengan satwa dengan nama latin Hydrosaurus amboinensis ini posisinya masih berada di daerah berpasir pada pinggiran sungai. Menyadari kehadiran saya bersama teman lainnya pararang (Makassar.red) ini menghindar dengan memanjat pohon.

Kawasan Pattunuang merupakan salah satu habitat Soa-soa di TN. Bantimurung Bulusaraung | Foto: Kama Jaya Shagir.

Jika mengamati secara seksama, satwa jenis reptil ini lebih menyerupai iguana. Memiliki jengger/taring yang berada di sepanjang punggungnya membuatnya berbeda dengan jenis reptil lainnya. Jumlahnya yang ribuan seolah menjadi layar bak perahu pinisi. Belum lagi jengger yang berada pada bagian ekornya dengan ukuran lebih lebar. Bak kipas menjadinya menjadi reptil yang unik.

Satwa yang termasuk jenis kadal ini umumnya sering dijumpai di pinggiran sungai. Pada saat air deras di sungai (musim penghujan), satwa ini lebih sering beraktivitas di hutan. “Saat musim hujan soa-soa ini lebih sering berada di atas pohon” imbuh Sidratul Muntaha. Kepala Resort Pattunuang ini menambahkan jika ini menjumpai satwa yang hidup di dua alam ini baiknya berkunjung pada bulan Mei sampai dengan Oktober.

“Jika ada peneliti ataupun pengunjung yang berniat untuk menyaksikan secara langsung satwa liar ini bisa minta pendamping dari petugas TN Babul” ungkap Pak Side’, nama panggilan kepala resort ini. Bapak Pado, salah seorang petugas yang sering mendampingi untuk menyaksikan secara langsung satwa tidak gampang dijumpai ini. Bapak yang pada bulan Januari 2013 lalu mendampingi tim dari Trans 7 dalam pengambilan gambar acara Jejak Petualang tentang satwa endemik TN Babul ini selalu siap untuk mendampingi.

“Soa-soa yang memiliki leher warna hitam (gelap) tandanya soa-soa jantan, sedangkan betinanya warna kuning” ungkap Pado menjelaskan. Menurut Pado satwa yang memakan daun ini bisa dijumpai di sungai.

Soa-soa (Hydrosaurus amboinensis) dapat dijumpai berjemur di atas batu sepanjang sungai Pattunuang, TN. Bantimurung Bulusaraung | Foto: Kamajaya Shagir.

Sarang tempat bertelur satwa ini umumnya dijumpai dalam lubang. Mereka membuat lubang untuk menjebak mangsanya, dengan cara membuat lubang lain selain lubang yang tempatnya bertelur. Lubang jebakannya biasanya lebih rapi dibandingkan lubang tempat menyimpan telu-telurnya. Hal ini kemungkinan besar dilakukan karena telurnya sering diburu satwa lainnya. Terutama oleh satwa satu bangsanya yakni oleh biawak.

Satwa ini perlu dilestarikan jikalau habitatnya benar-benar di Pattunuang. Karena beberapa sumber menyebutkan jikalau satwa merupakan satwa introduksi. Berdasarkan pengamatan bahwasanya satwa ini telah survive di daerah kawasan wisata ini, mengingat populasinya sudah cukup banyak. Hal ini menandakan mereka telah mampu beradaptasi dan berkembang biak dengan baik. Olehnya diperlukan perhatian bagi petugas TN Babul untuk melakukan pemantauan dan monitoring terhadap keberadaan satwa ini.

Berdasarkan studi literatur yang kami lakukan beberapa sumber menyebutkan bahwa habitat asli satwa ini berasal dari Maluku. Namun beberapa peneliti lain menyebutkan bahwa soa-soa yang berada di Sulawesi merupakan soa-soa jenis lain. “anak jenis yang menghuni Sulawesi dideskripsi oleh Peters tahun 1872 sebagai Lophura amboinensis var celebensis, tetapi (Iskandar in press.) menyatakan populasi ini sebagai spesies tersendiri yaitu Hydrosaurus celebensis. Jenis Hydrosauraus yang lain yang ada di Ternate dan Halmahera adalah Hydosaurus weberi” Hamidy dan Mulyadi 2007.

Terlepas dari apakah jenis merupakan introduksi ataupun memang habitat aslinya, jenis yang sama dengan soa-soa yang di Maluku atau memang merupakan jenis tersendiri. Yang jelasnya satwa ini perlu dilestarikan mengingat satwa ini merupakan salah satu satwa yang dilindungi. Salam konservasi…

DAFTAR PUSTAKAHamidy, Amir dan Mulyadi. 2007. Herpetofauna di Pulau Waigeo. Museum Zoologicum Bogoriense Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Penetahuan Indonesia. Bogor.
Penulis: Taufik Ismail