image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Artikel

Spesies Prioritas Utama TN. Bantimurung Bulusaraung

Monyet Hitam Sulawesi (Macaca maura) | Foto: Saiful Bachri.

Sulawesi adalah pulau yang sangat berharga bagi konservasi biologi karena memiliki tingkat endemik yang tinggi. [Catatan: Jenis endemik Sulawesi berarti hanya ditemukan di Sulawesi, secara alami tidak ditemukan di tempat lain di dunia ini].

Ada 165 jenis mamalia yang endemik Indonesia, hampir setengahnya (46%) ada di Sulawesi. Dari 127 jenis mamalia yang ditemukan di Sulawesi, 79 jenis (62%) endemik. Hanya di daratan Sulawesi tercatat ada 233 jenis burung, 84 diantaranya endemik Sulawesi. Jumlah ini mencakup lebih dari sepertiga dari 256 jenis burung yang endemik Indonesia. Sulawesi didiami oleh sebanyak 104 jenis reptilia, hampir sepertiganya atau 29 jenis adalah jenis endemik. Itu berarti, dari 150 reptilia yang tercatat endemik di Indonesia, seperlimanya ada di Pulau Sulawesi.

Taman Nasional (TN) Bantimurung Bulusaraung dengan luas ± 43.750 ha sebagai kawasan konservasi memiliki kekayaan hayati yang tinggi dan menjadi salah satu biodiversity hotspot di Sulawesi Selatan. Sampai dengan Tahun 2013, basis data keanekaragaman hayati di TN. Bantimurung Bulusaraung mencatat sedikitnya 643 spesies satwa liar terdiri dari 33 jenis mamalia, 128 jeni burung, 14 jenis amphibia, 29 jenis reptil, 274 jenis serangga (di antaranya 200 jenis kupu-kupu), serta 165 jenis collembola, pisces, moluska dan lain sebagainya. Di antaranya terdapat 49 jenis satwa liar penting yang dilindungi undang-undang dan 132 jenis satwa liar endemik Sulawesi.

Tarsius (Tarsius fuscus) | Foto: Kamajaya Shagir.

Selain itu, teridentifikasi sedikitnya 683 jenis tumbuhan yang terdiri dari 14 family kelas monocotyledonae dan 86 family kelas dicotyledonae. Di antaranya 43 jenis Ficus merupakan key species di kawasan TN Bantimurung Bulusaraung, 90 jenis Anggrek alam, dan 5 jenis yang dilindungi, yaitu Ebony (Diospyros celebica), Palem (Livistona chinensis, Livistona sp.), Anggrek (Ascocentrum miniatum dan Phalaenopsis amboinensis).

Strategi Peningkatan Populasi Spesies Prioritas Utama

Salah satu sasaran strategis yang hendak dicapai sebagai Indikator Kinerja Utama (IKU) Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Tahun 2010-2014 adalah peningkatan populasi spesies prioritas utama yang terancam punah sebesar 3% sesuai kondisi biologis dan ketersediaan habitat. Spesies prioritas utama yang terancam punah dipilih dengan memperhatikan kriteria regulasi (status konservasi), ketersediaan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi, kemungkinan/feasibility untuk berkembang, ketersediaan baseline data 2008 atau 2011, keterwakilan region, serta komitmen/dukungan internasional/stakeholders.

Sehubungan dengan hal tersebut, maka Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi menetapkan 14 (Empat Belas) Spesies Terancam Punah yang dijadikan Spesies Prioritas Utama untuk Peningkatan Populasi 3% pada Tahun 2010-2014 melalui Surat Keputusan Nomor: SK.132/IV-KKH/2011. Ke empat belas spesies tersebut terdiri dari Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus), Badak jawa (Rhinoceros sondaicus), Banteng (Bos javanicus), Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus pygmaeus), Komodo (Varanus komodoensis), Owa jawa (Hylobates moloch), Bekantan (Nasalis larvatus), Anoa (Bubalus quarlesi dan Bubalus depressicornis), Babirusa (Babyrousa babyrussa), Jalak bali (Leucopsar rothschildi), Elang jawa (Spizaetus bartelsi), Maleo (Macrocephalon maleo), Kakatua-kecil jambul-kuning (Cacatua sulphurea) dan secara garis besar dikelompokkan menjadi tiga familia yaitu Mamalia (6 spesies), Aves (4 spesies), Primata (3 spesies), serta Reptil (1 spesies).

Graphium androcles | Foto: Saiful Bachri.

Dari ke empat belas spesies tersebut tidak satupun spesies yang habitatnya berada di kawasan TN. Bantimurung Bulusaraung. Namun memperhatikan sasaran strategis yang hendak dicapai sebagai Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) bidang konservasi keanekaragaman hayati Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung tahun 2010-2014, kriteria regulasi (status konservasi), kemungkinan/feasibility untuk berkembang, ketersediaan baseline data 2009 atau 2011, keterwakilan region, serta komitmen/dukungan internasional/stakeholders, maka ditetapkan 4 (empat) spesies prioritas utama di TN. Bantimurung Bulusaraung berdasarkan Surat Keputusan Kepala Balai TN. Bantimurung Bulusaraung Nomor: SK.104/BTNBABUL-1/2013. Jenis-jenis tersebut adalah Monyet Hitam Sulawesi (Macaca maura), Tarsius (Tarsius fuscus), Kupu-kupu (Lepidoptera), dan Anggrek alam (Orchidaceae).

Beberapa tahapan kegiatan untuk melestarikan spesies tersebut telah dilakukan oleh Balai TN. Bantimurung Bulusaraung, yaitu di antaranya:

1. Identifikasi, inventarisasi dan pemetaan sebaran spesies.

2. Penentuan permanent monitoring plot sebagai site monitoring pada masing-masing spesies untuk mempermudah kegiatan monitoring secara berkala;

3. Monitoring secara berkala terhadap populasi spesies;

4. Konservasi spesies secara eksitu.

5. Penyusunan baseline data berdasarkan site secara berkala pada masing-masing spesies.

Monitoring secara berkala pada site monitoring untuk mendapatkan data series sehingga dapat diketahui perkembangan populasi spesies tersebut. Monitoring populasi adalah kegiatan mengumpulkan data lapangan yang bertujuan untuk mengetahui kecenderungan naik atau turunnya populasi suatu jenis di tempat tertentu, yang dilakukan secara berulang dan teratur dengan metode yang secara ilmiah berlaku. Hasil monitoring spesies ini dapat digunakan sebagai bahan evaluasi dan digunakan untuk menentukan strategi peningkatan populasinya.

Penulis: Kamajaya Shagir.