image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Artikel

Karst Maros, Secuil Surga Jatuh Ke Bumi

Bentang alam di Kampung Bellae, Minnasatene, Pangkep. (Biotagua.org).

Matahari pagi muncul dari balik bukit karst yang menjulang tinggi di Kampung Bellae, di Kecamatan Minasa Te’ne Kabupaten Pangkajene Kepulauan sekitar 45 km sebelah utara Bandara Sultan Hasanuddin Maros.

Di kejauhan nampak pohon siwalan yang muncul berdampingan dengan batu-batu gamping yang masih tersisa di tengah persawahan yang mengering dengan latar belakang tower karst yang menjulang.

Keindahan seperti ini juga banyak ditemukan di beberapa tempat seperti Rammang-Rammang di Kabupaten Maros. Seorang geolog dari ITB, Dr. Budi Brahmantyo, menyebutnya bentukan ini seperti “kebun batu”. Di Rammang-Rammang, keindahan ini dipadu dengan aliran sungai yang dihiasi pohon nipah di kanan kiri sungai. Sebuah kombinasi yang luar biasa untuk dinikmati oleh mata yang haus akan keindahan.

Di China, bentukan seperti ini disebut dg stone forest, aset wisata yang luar biasa untuk China sebagai daerah tujuan wisata. Mengapa di Maros dan Pangkep aset seperti ini belum dijual sebagai sebuah potensi wisata?

“Keindahan ini layak untuk dijual, tapi jangan mengundang investor, tapi masyarakat yang harus mengelola dengan dibantu oleh Pemda” begitu kurang lebih Dr. Budi Brahmantyo  menyampaikan paparannya dalam salah satu sesi workshop tentang Geowisata di gelaran International Cave Festival di Pangkep, 4-6 Oktober 2013.

Dalam paparannya, beliau menyampaikan beberapa gambar bagaimana pengembangan potensi wisata di Rammang-Rammang dapat dilakukan.

“Gambar-gambar ini belum ada disana, tapi ini hasil olah Photoshop seorang mahasiswa arsitektur” ungkap Pak Budi  sambil menunjukkan foto-foto rumah-rumah homestay yang dipadu dengan bentang alam kebun batu. Di foto yang lain, di tepi sungai nampak gambar orang berdiri di dermaga di tepi sungai dengan sampan bersandar di dermaga yang semua itu bentuk imajinasi bagaimana pemanfaatan ke depan.

Potensi seperti itu harus dikelola dengan benar tanpa merubah banyak apa yang sudah ada. “Rumah yang dibangun harus dengan arsitektur khas Bugis” begitu lanjutnya dalam paparannya.

Secuil Surga

Karst Maros ibarat secuil surga yang terjatuh ke bumi. Di sudut lain, di sebuah lembah dengan hamparan sawah yang sedang ditanam, nampak bukit karst khas”tower karst” mengelilingi lembah.

Dari depan salah satu gua prasejarah, Leang Kapao nampak hamparan persawahan yang sangat indah. Keindahan yang saat ini mulai sulit ditemukan karena manusia telah banyak merubah alam ini dengan semena-mena.

Bagi warga Bellae, mereka ibarat sudah dikirimi secuil surga di sekelilingnya. Sementara, di kota-kota besar orang-orang menghabiskan uang puluhan juta untuk membuat secuil “surga” yang sama dengan membuat taman di rumahnya.

Ini kelebihan bagi banyak orang di Maros dan Pangkajene, mereka tak perlu membeli batu untuk membuat taman di rumahnya, alam sudah memberi tanpa harus membayar dengan uang jutaan. Alam telah membentuk dan mengukir batu-batu itu selama puluhan juta tahun. Ini sebenarnya sebuah anugerah yang tidak semua orang Indonesia bisa nikmati.

Terusik

Namun ternyata pemandangan seperti itu bukan sebuah anugerah bagi sebagian orang. Di beberapa tempat seperti di arah Leang-Leang, bentukan batu hitam yang menjulang di tengah sawah nampak bopeng berwarna putih karena sudah terpotong.

Batu-batu itu sebagian digunakan untuk membuat pagar sebagian lagi untuk mengeraskan jalan yang berlubang.

Selain itu, ada batu yang dipotong karena diatasnya dibuat peternakan ayam. Sebuah ironi yang sangat disesalkan. Secuil surga ini mulai terusik karena ternyata ada sebagian orang tidak menyadari jika sebenarnya ada secuil surga yang terjatuh di sana.

Semoga orang-orang ini bisa menyadari, bahwa mereka patut bersukur karena tidak semua orang dikaruniai keindahan yang diberi alam yang umurnya puluhan juta tahun. Sehingga secuil surga itu bisa dinikmati oleh anak cucu kelak tanpa harus membuka-buka foto karena semua itu telah hilang dari sekitar rumahnya. (Cahyo Rahmadi, Peneliti Biota Gua LIPI, www.biotagua.org)