image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Sosialisasi Peraturan dan Pengembangan Pariwisata Alam

Sosialisasi Peraturan dan Pengembangan Pariwisata Alam (foto: Indra Pradana).

Makassar, tn-babul.org — Balai Taman Nasional (TN) Bantimurung Bulusaraung mengadakan kegiatan Sosialisasi Peraturan Pariwisata Alam (PP No. 36/2011 dan Permenhut No. 48/Menhut-II/2010 tentang Pengusahaan Pariwisata Alam di Suaka Margasatwa, Taman Nasional, Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam) dan Pengembangan Pariwisata Alam TN. Bantimurung Bulusaraung pada tanggal 23-24 Oktober 2013 bertempat di Hotel Aerotel Smile Makassar.

Kegiatan sosialisasi ini dihadiri 30 (tiga puluh) orang peserta yang berasal dari Dinas  Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Pangkep dan Kab. Maros, Dinas Pendapatan Daerah Kab. Pangkep dan Kab. Maros, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab. Pangkep dan Kab. Maros, Kades Panaikang, Kades Tompobulu, ASITA, PHRI, HPI, Pelaku Usaha Kios Makanan/Minuman,  Pelaku Usaha Penyewaan Pakaian, Pelaku Usaha Penyewaan Tikar, Pelaku Usaha Penyewaan Toilet, Pelaku Usaha Flying Fox, Pelaku Usaha Pemandu Gua/Senter, Pelaku Usaha Interpreter Ewako, Pelaku Usaha Penyewaan Pelampung, Pelaku Usaha Fotografi, Pelaku Usaha Asongan, Kelompok Dentong, Kasie Pengelola Objek dan Daya Tarik Wisata, Pengelola Maros Waterpark,  Kader Konservasi dan KORPALA UNHAS.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Dr. Ir. Bambang Supriyanto, M.Sc (Direktur PJLKKHL). Dalam sambutannya, Direktur PJLKKHL menyampaikan pemanfaatan jasa lingkungan di TN. Bantimurung Bulusaraung harus mengikuti kaidah-kaidah pemanfaatan secara lestari, tanpa mengganggu kelestarian fungsi, TN mempunyai fungsi lain, dimana tujuan tersebut haruslah memikirkan perlindungan dan pemanfaatan. Karena dalam pola kerja kementerian kehutanan berpegang pada 3 pilar, yaitu perlindungan, pemanfaatan, dan pengawetan. Jika dibandingkan keuntungan yang diperoleh bidang pariwisata dan bidang tambang. Bidang pariwisatalah yang memberikan banyak pemasukan, karena dari segi pengelolaannya pariwisata bersifat jangka panjang, sedangkan bidang tambang, pengelolaannya terbatas, yang nantinya akan habis sumber daya tambangnya sehingga potensi wisata apabila dikembangkan maka akan memberikan kontribusi yang sangat besar.

Sebagai Narasumber hadir Dr. Ir. Bambang Supriyanto, M.Sc (Direktur PJLKKHL), Sadtata Noor, S.Hut, MT (Kepala Seksi Pemanfaatan Wisata Alam di Taman Nasional, Direktorat PJLKKHL), Prof.Dr.lr. Ngakan Putu Oka, M.Sc (Fakultas Kehutanan UNHAS), Hery Sigit Cahyadi (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif), Yusriadi Arief, SS (Dinas kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Maros), Ir. Sri Winenang, MM (Kepala Balai TN. Bantimurung Bulusaraung) dan Dedy Asriady (Kasubag TU Balai TN Bantimurung Bulusaraung).

Sosialisasi ditutup oleh Dedy Asriady (Kasubag TU Balai TN Bantimurung Bulusaraung) dengan menyampaikan bahwa Kab. Maros dan Kab. Pangkep mempunyai keunikan masing-masing wilayah, tinggal bagaimana bisa saling bersinergi bekerjasama dalam mengelolah pengembangan wilayah masing-masing. Harapan kedepannya bagaimana mensinkronkan aturan pemda, aturan kementerian atau pun masyarakat dengan tetap memprioritaskan kelestarian dan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, kita diharapkan bisa menjadi pilar-pilar ekowisata di Kab. Maros dan Kab.Pangkep. (Fatmiah N.)