image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Artikel

Takjub Dengan Keindahan Gua Karst Maros-Pangkep

Gua Saripah | Foto: Indra Pradana.

Sangat mengagumkan ketika pertama kali menikmati bentangan karst yang ada di Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep). “The Spectacular Tower Karst” begitulah pemerhati karst dan orang-orang memberi nama pada kawasan karst Maros-Pangkep. Bentangan karst karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 ha, dan ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional (TN) Bantimurung Bulusaraung.

TN. Bantimurung Bulusaraung ditunjuk berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor: SK.398/Menhut-II/2004 tanggal 18 Oktober 2004. Sebelum berubah fungsi menjadi taman nasional, kawasan ini berfungsi sebagai cagar alam seluas ± 10.282,65 ha, taman wisata alam seluas ± 1.624,25 ha, hutan lindung seluas ± 21.343,10 ha, hutan produksi tetap seluas ± 10.355 ha serta hutan produksi terbatas seluas ± 145 ha.

Singkapan batu gamping yang luas di Sulawesi Selatan ini membentuk tipe karst tersendiri. Bukit-bukit berlereng terjal (yang sebagian besar genesanya dipengaruhi oleh struktur geologi, sebelum diperlebar dan diperluas oleh proses pelarutan atau Karstifikasi) membentuk bangun menara yang sangat khas (tower karst). Bukit-bukit menara Karst Maros-Pangkep serupa dengan karst yang ada di China Selatan dan Vietnam (Samodra 2001).

Gua Kalibong Aloa | Foto: Indra Pradana.

Pada kawasan karst Maros-Pangkep ini terdapat ± 400 Gua. Dari hasil penelitian arkeologi diketahui ada 117 gua yang mengandung tinggalan arkeologis berupa lukisan, artefak dan ekofak (Pusat Arkeologi Nasional 2012).  Di kawasan TN. Bantimurung Bulusaraung telah diidentifikasi ± 257 Gua di antaranya ± 41 Gua Prasejarah (Balai TN. Bantimurung Bulusaraung 2010).

Pada tanggal 24 sampai 26 Januari 2014 kemarin saya dan teman saya yang sedang magang melakukan susur Gua di kawasan TN. Bantimurung Bulusaraung. Gua Saripah, Gua Leang Londrong, Gua Kalibong Aloa, tiga Gua yang sudah saya nikmati keindahan ornamen-ornamennya.

Gua yang pertama kali saya masuki adalah Gua Saripah, berada di daerah Taddeang dekat dengan kantor Balai TN. Bantimurung Bulusaraung. Saya ditemani orang-orang yang benar-benar telah berbakat dalam bidang susur Gua. Gua yang saya masuki ini termasuk kedalam Gua Horizontal, dikarenakan medan dari Gua tersebut di dominasi dengan jalanan yang Horizontal. Terdapat beberapa titik yang merupakan medan Vertikal yang mengharuskan kita untuk memasang pengaman sebelum turun ataupun ketika akan naik. Benar-benar menakjubkan ketika mata saya menangkap begitu banyak pemandangan Stalaktit, Stalakmit, Pilar, dan yang lainnya. Saya tak berhenti takjub menikmati keindahan dalam Gua tersebut.

Gua Kalibong Aloa | Foto: Indra Pradana.

Gua yang kedua adalah Gua Leang Londrong, terletak di daerah Minasa Te’ne Kabupaten Pangkep. Gua ini juga termasuk Gua Horizontal, dikarenakan medan yang mendominasi adalah jalanan Horizontal. Namun, ketika kemarin kami masuk, hanya mencapai gerbang saja, disebabkan arusnya yang sangat deras. Butuh perjuangan yang extra ketika memasuki Gua Leang Londrong karena harus melawan arus. Sungguh pengalaman yang luar biasa ketika saya kewalahan sewaktu akan menaiki pagar dan terbawa arus. Mereka sangat menolong, dan dengan sabarnya  membantu saya naik.

Gua yang terakhir dan yang paling menambah pengalaman saya adalah kunjungan kami ke Gua Kalibong Aloa, juga berada di daerah Minasa Te’ne Kabupaten Pangkep. Melewati sawah, mendaki dan terus mendaki tebing. Pengalaman pertama ketika saya harus memanjat tebing layaknya seorang ahli. Mungkin ada 5 kali kami mendaki tebing dan akhirnya tiba di mulut Gua ketika matahari telah menghilang digantikan sinar sang rembulan. Kami beristirahat sejenak, makan seadanya tidur beralaskan yang seadanya pula. Sempat kunikmati pemandangan malam, sangat indah dan mempesona. Gua Kalibong Aloa termasuk Gua Vertikal-Horizontal, disebabkan medannya yang seimbang antara Vertikal dan Horizontal. Pemandangan di dalamnya juga tak kalah indah, bahkan sempat ku temukan beberapa ornament yang mengkilat layaknya berlian.

Pemandangan alam dari teras Gua Kalibong Aloa | Foto: Indra Pradana.

Sebuah pengalaman yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kotaku tercinta, ternyata tidak kalah indah dibandingkan tempat-tempat lain yang ada di Indonesia ataupun di dunia. Merupakan kawasan karst terluas kedua setelah China, dengan bentukan karstnya yang berbeda dari yang lainnya. Kebanggaan tersendiri ketika nantinya saya dapat memperkenalkan bentangan karst di daerah saya ini ke seluruh pelosok negeri, bahkan sampai ke Internasional.

Lewat artikel ini juga ingin kusampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada semua pihak yang telah melancarkan proses magang saya. Yang dengan baik dan sabar memberi pengalaman yang sangat berharga dan tak akan terlupakan. Memberikan ilmu baru kepada saya, yang pastinya akan saya gunakan ketika saya akan melakukan sebuah perjalanan maupun dalam pendidikan saya. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kakak-kakak yang telah menemani dan membantu saya selama berada di lapangan. Semoga suatu saat kakak-kakak masih berkenan mengajak saya menyusuri Gua-Gua karst yang ada di daerah tercintaku ini, Kabupaten Maros.

Penulis: Sri Reski Khairunnisa.