image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Artikel

Menanam Pakan, Menjaga Kehidupan Kupu-kupu Bantimurung

Aneka kupu-kupu cantik tengah beristirahat di tanah. | Foto: Rusman Muliady.

Berwarna warni. Ada kuning, merah, hitam, bintik-bintik, loreng dan banyak lagi. Itulah si kupu-kupu. Ia hinggap di bunga, menjulurkan belalai kecil menghisap nektar. Kaki menempel di pucuk-pucuk bunga membawa tepung sari lalu menghasilkan penyerbukan tanaman.

Begitu juga di pusat penangkaran kupu-kupu Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Bunga-bunga merah tengah mekar. Puluhan kupu-kupu silih berganti mendatangi. Berputar-putar, singgah sejenak lalu berpindah ke bunga-bunga yang lain.

Ada Papilio blumei, spesies kupu-kupu berwarna biru terang di punggung dan seperti memiliki ekor, mengepak-ngepak perlahan. Ada juga Troides helena, terbang dengan warna kuning di bagian belakang sayap.

Pada Minggu (21/12/14), Kepala Resort Taman Kupu-kupu Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Suci Achmad mengajak saya melihat pra-pupa Troides helena sebelum menjadi pupa (kepompong).

Bentuk prapupa Troides, sungguh menakjubkan. Melihat sekilas, seperti ulat kering dan mati. Sekujur badan tumbuh duri lunak dan bagian leher terdapat benang pengikat agar tetap bergantung di dahan, tangkai atau inang.

Prapupa dari Troides helena di Bantimurung. | Foto: Eko Rusdianto.

Proses perkembangan kupu-kupu mulai telur, larva, prapupa, pupa (kepompong) dan imago (kupu-kupu bersayap).

Ada beberapa pemangsa dalam proses perkembangan kupu-kupu yang perlu diwaspadai. “Larva dan prapupa, bisa dimangsa semut, burung, bakteri hingga jamur. Kelembaban dan perubahan suhu ikut berpengaruh,” kata Suci.

“Jika suhu cepat berubah, larva bisa stres. Malas makan dan bisa mati.”

Habitat berubah

Taman kupu-kupu itu terletak di sisi jalan menuju kawasan wisata Bantimurung, yang setiap akhir pekan dipenuhi pengunjung. Para pengunjung bermain di air terjun, membawa bekal makanan, membakar ikan bahkan menghamburkan sampah plastik.

Di sini,  dibangun beberapa penginapan, lapangan parkir beralas batako dan semen kasar.  “Ini perkembangan yang tak dapat dihindari. Habitat mulai berubah dan pakan kupu-kupu mulai berkurang, maka kami melakukan penanaman,” kata Siti Chadidjah, Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Penanaman pakan kupu-kupu dilakukan di beberapa titik, tersebar di taman nasional ini sebanyak 5.000 pohon. Tiga jenis pohon pakan larva, seperti pohon lada-lada (Micromelum minutum), jeruk (Citrus sp.), dan tiga daun (Evodia lepta). Juga tujuh jenis bunga pakan kupu-kupu dewasa (imago) seperti pagoda, jatropha, bunga kupu-kupu, asoka, turnera, dan lantana.

Siti Nurbaya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, yang hadir kala itu, memberi apresiasi baik. Dia mengatakan, setiap pengembangan pasti ada perubahan keseimbangan dan habitat. Salah satu syarat paling penting adalah konservasi.

Siti Nurbaya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, menanam pohon pakan kupu-kupu di Taman Wisata Bantimurung.| Foto: Eko Rusdianto.

“Jadi ujung-ujungnya koservasi harus benar-benar dijaga, apakah menggunakan teknologi atau menjaga alamiah. Penanaman pakan ini semacam investasi mengganti lahan yang digunakan paving blok.”

Dalam Taman Nasional, katanya, jika pembangunan menggunakan lahan besar syarat dan kajian harus benar-benar transparan. “Kalau lebih banyak merusak, kita gak akan kasih izin.”

Alfred Russel Wallacea dalam The Malay of Archipelago (Kepulauan Nusantara), yang mendatangi Bantimurung pada 1857, mencatat sekitar 270 jenis serangga menghuni kawasan itu. Di tempat ini, Wallace menuliskan kekaguman menemukan beberapa spesies langka, termasuk rangkong Celebes (Buceros cassidix).

Hal lain yang menjadi tujuan utama Wallacea adalah kupu-kupu. Dalam laporan perjalanan itu, Wallacea menulis, “Di hutan-hutan berbatu ini, terdapat beberapa jenis kupu-kupu paling cantik dunia. Tiga spesies Ornihitoptera memiliki sayap berbintik-bintik kuning…dan Papilio Rhesus langka berekor walet.”

Dari laporan Wallacea inilah, wisata Bantimurung merupakan bagian Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dikenal dengan nama Kingdom of Butterfly. Gerbang utama memasuki kawasan ini pun merupakan patung besar kupu-kupu jenis Papilio blumei.

Pada 1977, Anis Mattimo, peneliti Universitas Hasanuddin Makassar menuliskan laporan kupu-kupu di kawasan itu 103 jenis. Pada 1997, Mappatoba Sila menemukan 147 jenis. Ironis, pada 1998, peneliti lain, Amran Ahmad  hanya menemukan 80 jenis.

Suci mengaku, selama ini populasi kupu-kupu berkurang. Namun, dalam jenis, tak berkurang secara spesifik. Dari analisis empat tahun terakhir, masih ditemukan 225 jenis, bahkan kemungkinan bertambah. “Kupu-kupu berkurang saat kemarau, akan banyak saat hujan. Kelembaban baik. Setelah hujan muncul matahari. Kupu-kupu akan banyak.” (www.mongabay.co.id)

Penulis: Eko Rusdianto