image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Artikel

Si Biru yang Endemik Nan langka

Si Biru (Papilio blumei) | Foto: Chaeril.

Dua tahun sudah, saya berkantor di Taman Nasional (TN) Bantimurung Bulusaraung. Selama itu pula, hampir setengah wilayah taman nasional yang terkenal dengan ekosistem karstnya ini telah saya jelajahi. Meski demikian masih banyak potensi yang perlu diidentifikasi di kawasan ini.

Setelah 10 tahun sebelumnya, saya sering menyelami laut TN. Bunaken yang memiliki ekosistem terumbu karang yang kaya. Namun, selama bekerja di TN. Bantimurung Bulusaraung, salah satu potensi yang menarik minat saya adalah keanekaragaman jenis kupu-kupunya. Ya..memang tingginya biodiversitas kupu-kupunya tak diragukan lagi. Bagi orang luar (mancanegara) kawasan ini terutama Bantimurung telah terkenal sejak dahulu kala. Sejak Alfred Russel Wallace memberikan julukan “The Kingdom of Butterfly” untuk kawasan Bantimurung  dalam publikasinya “The Malay Archipelago” tahun 1869.

Salah satu kupu-kupu yang menarik bagi saya adalah Papilio blumei. Spesies dari suku Papilionidae ini memang mudah dijumpai di kupu-kupu awetan yang ramai diperdagangkan di Bantimurung. Tapi kehadirannya di alam begitu berbeda, jarang bahkan boleh dikatakan langka. Tak heran pula jika si blumei menjadi maskot gerbang menuju kawasan wisata Bantimurung.

Selama menyigi kawasan taman nasional yang juga terkenal dengan keindahan ornamen guanya ini, baru dua kali saya bersua dengannya. Si biru..ya begitu saya memanggilnya. Warnanya sayapnya hitam kebiru-biruan sangat berbeda dengan kupu-kupu lainnya. Jika sedang terbang, sepintas mirip Papilio peranthus. Namun jika diperhatian secara saksama letak sisi birunya berbeda, si perantus warna biru terletak di bagian pinggir pangkal sayapnya. Sedangkan si biru sendiri warna biru terang terletak vertikal di bagian tengah sayapnya. Belum lagi kombinasi biru hitamnya yang terdapat di sayap bawahnya. Menambah cantiknya si biru.

Salah satu kupu-kupu endemik Sulawesi ini sebarannya pun terbatas. Di kawasan taman nasional sendiri hanya bisa dijumpai di beberapa spot. Habitat terbesarnya pun berada di luar kawasan TN. Bantimurung Bulusaraung.  Yaa..tepatnya di Desa Laiya. Jika musim kemunculannya, si biru dapat dijumpai dalam jumlah besar. “30-50 ekor bisa dijumpai di bulan Mei” tutur Erik, seorang pemerhati kupu-kupu. Saya tak bisa bercerita banyak tentang habitatnya di desa ini, mengingat saya pun belum pernah berkunjung ke sana.

Lokasi perjumpaan si biru di Pegunungan Bulusaraung | Foto: Kama Jaya Shagir.

Perjumpaan pertama saya dengan si biru pada bulan September 2013 di Desa Bonto Manai. Survey potensi kawasan dalam rangka Resort Base Management (RBM) kala itu mengantarkan saya ke desa ini. Hanya saja hasil jepretan saya kala itu tak maksimal. Gaya terbangnya yang lincah dan tidak hinggap berlama-lama membuat sulit untuk diabadikan. Hanya dalam hitungan detik hinggap di satu tangkai bunga kemudian berpindah ke bunga lainnya. Kala itu si biru sedang aktif siang hari menghisap satu demi satu nektar bunga Lantana camara. Ya..memang lokasi perjumpaan kami spotnya sedikit terbuka, landai, dan terdapat hamparan bunga Lantana camara yang cukup luas. Melihat si biru langsung di alam bebas memberikan suatu kepuasan tersendiri.

Perjumpan kedua dengan si biru belum lama ini, tepatnya di akhir bulan Mei 2014. Pegunungan Bulusaraung adalah lokasi perjumpaan kami. Kala itu saya bersama beberapa kawan sedang survei lapangan. Survei lapangan dalam rangka penyusunan desain tapak 7 site wisata TN. Bantimurung Bulusaraung. Ya..saya berjumpa dengan si biru kala menyusuri jalan alternatif menuju puncak Gunung Bulusaraung. Pada ketinggian 950 m dpl keberadaan lokasi perjumpaan. Lokasi perjumpaan sebelum persimpangan antara jalan menuju puncak gunung yang memiliki ketinggian 1.353 m dpl ini dan jalan menuju Desa Galung-galung. Lokasi perjumpaan ini sedikit terbuka mengingat terdapat jalan setapak. Saat berjumpa si biru sedang menghisap nektar pada pohon yang sedang berbunga. Masyarakat Tompobulu menyebut pohon ini dengan nama lokal, Sampiri. Bunganya berwarna putih dan lebat, sehingga mengundang kedatangan kupu-kupu termasuk si biru.

Betapa senangnya kala melihatnya langsung. Seorang kawan melihat pertama kalinya dan mengabarkan ke yang lainnya. Bahkan oleh kawan yang pertama kali menjumpainya melihat 2 ekor si biru. Saya sangat senang saat menyaksikannya langsung. Saya pun dengan girangnya mengabarkan kepada kawan yang menenteng kamera untuk memburunya. Mengingat kala itu sepertinya si biru mengetahui keberadaan kami. Kemudian si biru menyusup ke semak-semak. Dengan sigapnya kedua kawan ini memburunya. Ranting dan duri yang menghalang tak dihiraukannya demi mendapatkan sudut pengambilan gambar yang terbaik. Perjuangan kawan pun terbayarkan dengan kualias gambar yang didapatnya. Dengan girangnya kawan sang fotografer ini pun mengabarkan hasil fotonya kepada rombongan yang lain. Ya..wajar saja tingkah kawan kami ini. mengingat hasil jepretan spesies ini memang jarang yang memilikinya. Kalaupun ada hasil potretnya pun tidak maksimal. Sepertinya kawan kami ini sudah tak sabar ingin mempertontonkan hasil karyanya kepada kawan sekantor kala itu.

Anda penasaran dengan si biru?. Jika ya..sepertinya kita bisa buat janji untuk hunting bersama.

Penulis:Taufiq Ismail, S.Hut (PEH Balai TN. Bantimurung Bulusaraung)