image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Artikel

Kisah Migrasi Manusia di Pegunungan Karst Sulawesi Selatan

Kawasan karst di Kabupaten Pangkep. Sulawesi Selatan, menyimpan beragam misteri kehidupan manusia masa lalu | Eko Rusdianto

Deretan pegunungan karst yang membentang dari Maros, Pangkep, Bone dan Barru menyisakan ratusan gua dengan berbagai macam tinggalan arkeologis. Dari mata panah (marost point), alat batu, tulang hewan, tulang manusia, sisa makanan, sisa tembikar, hingga lukisan-lukisan “misterius”–berbentuk telapak tangan, hewan, dan manusia.

Sejak kedatangan kali pertama naturalis dan etnolog asal Swiss, Paul dan Fritz Sarasin, pada 1902, dan menerbitkan hasil petualangan dalam buku dua jilid Reisen in Celebes: Ausgefhrt in Den Jahren 1893-1896 Und 1902-1903, ratusan gua ini berubah menjadi laboratorium hidup. Para ilmuan ini mencari, menelisik, dan memprediksi lingkungan masa lalu.

Paul dan Sarasin memperkenalkan manusia-manusia yang menghuni gua dengan beragam tinggalan itu sebagai To Ala. Namun, arkeolog Australia,  David Bullbeck, mengatakan Sarasin bias saat menyimpulkan penghuni gua dengan ciri seperti orang-orang India.

Menurut Bullbeck, manusia pendukung yang menyisakan berbagai tinggalan dalam gau-gua itu, jauh lebih tua dari To Ala. Beragam penafsiran muncul. Beberapa ilmuan mengatakan, jika manusia penghuni gua adalah gelombang ras dari Austro-Melanesia atau Melanosoid. Ada pula mengatakan penutur bahasa Austronesia atau ras Mongoloid.

Mongoloid menggeser Melanosoid

Arkeolog Universitas Hasanuddin, Iwan Sumantri mengatakan, 60.000 tahun lalu, gelombang manusia dari ras Austro-Melanesia mendatangi kepuluan Sulawesi. Menggunakan rakit sederhana dan gua tempat berlindung. Masa itu, ras ini belum mengenal pakaian, namun sudah pakai api, mencari makanan serta menciptakan perkakas sederhana dari batu.

Kotak ekskavasi penemuan tengkorak di Leang Bala Metti, Kecamatan BontoCai, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan | Foto: dokumen Balai Arkeologi Makassar

Gelombang migrasi ini, belum mengenal kehidupan yang menetap. Belum membangun rumah atau mengenal cocok tanam. Pemenuhan kebutuhan hidup seperti makanan, dengan mencari kerang ataupun mengkonsumsi hewan dan umbi-umbian.

Gelombang ini, menciptakan kelompok-kelompok kecil, dengan sistem kepimpinan informal. Mereka menjelajahi daratan hingga ratusan kilometer untuk pemenuhan kebutuhan.

Mengapa mereka memilih pegunungan karst? “Tak ada yang tahu,” kata Iwan. Secara umum, katanya,  Melanosoid menggunakan sistem berburu pasif. Mereka menunggu, mengintip dan menyergap. Berbeda dengan bangsa Indian, misal, ada musim berburu bison, mengarahkan dan menghimpit hingga ke ceruk.

Bagaimana mereka bertahan? Masa lalu, katanya, wilayah karst dipercaya cukup subur. Memiliki tanah landai dan ceruk yang menghasilkan sungai air tawar. “Saya kira sumber makanan cukup melimpah.”

Arkeolog Balai Peninggalan dan Pelestarian Pubakala (BP3) Sulsel, Rustan, pernah meneliti makanan mengatakan, masyarakat prasejarah yang mengkonsumsi kerang laut juga menambah asupan makanan dari umbi-umbian.

Penelitian Rustan memilih gua antara Bantimurung dan Pattunuang, menemukan jika pada masa kedatangan masyarakat prasejarah, garis pantai mencapai wilayah Leang-leang–Kota Maros, kala itu masih lautan. “Mendapatkan kerang laut cukup mudah, dari gua hunian jarak hanya tujuh km,” katanya. Saat ini,  garis pantai dengan tempat penelitian, sampai 20 kilometer.

Apakah protein dan kandungan gizi masyarakat prasejarah cukup baik? “Saya kira masa itu sangat baik. Kerang berlimpah, binatang dan beberapa tumbuhan menjadi sumber protein dan kalori cukup. Tentu masih sehat.” “Tak ada bahan pengawet seperti sekarang,” kata Rustam, tertawa.

Sisa gigi dari temuan tengkorak di Gua Bala Metti, yang diperkirakan tinggalan dari manusia ras Austro-Melanosoid | Foto: Eko Rusdianto

Namun, dalam babakan migrasi, saat kedatangan ras Austro-Melanesia puluhan ribu tahun lalu, hingga kemunculan Mongoloid pada 3.800 tahun lalu, sungguh berbeda. Mongoloid membawa teknologi bercocok tanam, dan mulai membangun rumah dari gubuk sederhana. Melanosoid belum mengenal perladangan, ditandai penggunaan alat batu.

Di Sulsel, ada dua alur masuk gelombang Mongoloid melalui Kalumpang di Sulawesi Barat, menyebar ke Luwu hingga ke Sulawesi Tenggara dan masuk langsung ke karst Maros–Pangkep. Mongoloid ini dikenal dengan masa neolitikum.

Masa neolitik inilah kemudian, kata Iwan, sebagai revolusi besar, yakni revolusi pertanian. Masa gelombang manusia mulai memproduksi beberapa peralatan rumit, anak panah bergerigi dan pembuatan tembikar. “Neolitik ini masa surplus pangan dan ledakan penduduk,” katanya.

Ras Mongoloid inilah yang berdiam dan berkembang di Sulsel dan sebagain besar nusantara. Melanosoid, dari Sulawesi bergeser ke bagian timur Indonesia, menuju Papua hingga kepulauan Polonesia. “Jadi ada titik dimana, Melanosoid dan Mongolid bertemu. Mungkin di pulau-pulau bagian timur.”

Pada 200.000 tahun lalu, kata Iwan, ketika gelombang manusia dari Melanosoid meninggalkan Afrika, berpencar ke beberapa penjuru dunia, diperkirakan tiba di Sulawesi 60.000 tahun lalu. Gelombang ini dikenal sebagai pra-neolitik. Tak mengenal mata panah dan tak ada tradisi mengunyah sirih.

Namun, di Papua dan sebagian Indonesia Timur yang dianggap turunan Melanosoid mengenal penggunaan sirih.

Manusia pertama di Sulsel?

Ketua Tim Penelitian Arkeologi Wilayah Kecamatan Bonto Cani Kabupaten Bone, Budianto Hakim, memiliki asumsi lain. Penelitian dia lakukan bersama tim Balai Arkeologi (Balar) Makassar pada 2010-2015, menemukan 26 gua memiliki tinggalan arkeologis.

Temuan tengkorak di Leang Bala Metti, Kecamatan BontoCai, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan | Foto: dokumen Balai Arkeologi Makassar

Dan April 2015, di antara gua itu, yakni Leang Bala Metti di Desa Pattugu, Bonto Cani, tim menemukan tengkorak manusia dan ratusan alat serpih, sisa kerang, dan anak panah bergerigi pada kedalaman 80 sentimeter.

Budianto, begitu sumringah memperlihatkan sampel hasil penelitia di ruang artefak Balar Makassar. “Ini penemuan penting,” katanya.

Selama ini, penemuan akan tengkorak manusia di situs purbakala Karst meliputi Maros, Pangkep dan Barru, sangat kurang. “Dugaan saya, ini tengkorak Austro-Melanesia.”

Asumsi Budianto bukan tanpa alasan. Dalam kotak penggalian 1 x 1 meter itu, pembagian babakan masa terlihat jelas di layer tanah. Pada kedalaman 30 sentimeter ditemukan tembikar, gerabah,  dan beberapa ciri khusus masyarakat Mongoloid. Di bawah kedalaman itu, tak ada lagi ciri masyarakat Mongoloid. “Sejak dulu para peneliti percaya ada lapisan tua (tinggalan) dari masyarakat pra-mongoloid. Penemuan tengkorak ini satu konteks masa itu.”

Keyakinan lain, katanya, letak Sulawesi khusus Sulsel menjadi jembatan dan saluran migrasi dari berbagai arah. Di Flores (Florensis) penemuan manusia penghuni gua dinyatakan pada 700.000 tahun lalu dan di Jawa 1,2 juta tahun lalu.”Jika tengkorak ini dari ras Melanosoid, maka inilah penemuan pertama manusia yang ditemukan di Sulsel.”

Guru Besar Geologi Universitas Hasanuddin, Imran Oemar mengatakan, 30.000 tahun lalu pegunungan karst, termasuk taman purbakala Leang-Leang Maros, merupakan garis pantai. Terjadi penurunan muka air laut sampai 20 meter hingga sekarang.

Budianto Hakim memperlihatkan beberapa temuan dari Gua Bala Metti, yang diperkirakan sebagai tinggalan dari manusia ras Austro-Melanosoid, di Ruang Artefak Balai Arkeologi Makassar | Foto: Eko Rusdianto

Lalu, karena perubahaan iklim di Sulsel bagian timur, 60.000 tahun lalu, merupakan sabana dan kering. “Waktu itu ada El-Nino membuat beberapa tempat kering, seperti Kabupaten Luwu Timur dan sekitar,” katanya.

Kondisi itu memunculkan tafsir lain, pada 60.000 tahun lalu jika kondisi beberapa wilayah Sulsel kering, bagaimana manusia pra sejarah bertahan? Eddyman W Ferial, Ketua Lembaga Konsultasi Since MIPA juga peneliti evolusi Universitas Hasanuddin, mengatakan, setiap manusia dilengkapi gen bertahan dan beradaptasi pada lingkungan.

Menurut Eddyman, salah satu faktor menentukan pergerakan dan karakter manusia dipicu makanan ataupun lingkungan. “Jadi migrasi itu bisa karena kebutuhan mencari makanan atau lingkungan sudah tak mendukung.”

Dia memberi contoh, ketakutan beberapa ilmuan puluhan tahun lalu yang memperkirakan abad 21, manusia kekurangan makanan dan memicu perpindahan tempat mencari keamanan. Nyatanya,  memasuki abad 21, makanan berlimpah, efek gen kebingungan karena kalori berlebih.

Eddyman lebih senang menyebut sebagai natural selection (seleksi alam). Manusia prasejarah masa itu berpindah mungkin karena tak sesuai dengan kondisi lingkungan. “Kondisi lingkungan banyak faktor, bencana atau wabah penyakit.” Dari semua itu, jawaban pasti hingga kini masih menjadi misteri ilmu pengetahuan. (www.mongabay.co.id)

Penulis: Eko Rusdianto