image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Bissudaeng Ajarkan Anak-anak Maros Lindungi Alam

Sekolah Alam Bissudaeng.

FAJAR.CO.ID, MAROS — Pegiat lingkungan hidup Maros mendirikan sekolah alam di wilayah Lembang, Desa Samangki Kecamatan Simbang, Maros. Sekolah alam yang diberi nama Bissudaeng ini mendidik sedikitnya 30 anak usia dini dari daerah itu.

Penggagas Bissudaeng, Wati Ismail mengatakan sekolah alam itu adalah inisiatif pegiat lingkungan dan mahasiswa yang suka adventure dan khawatir akan rusaknya lingkungan. Sekolah itu sendiri sudah berjalan sejak dua bulan terakhir, dengan intensitas pertemuan dua kali seminggu. Pesertanya adalah anak-anak di daerah Lembang, salah satu kawasan hutan Maros.

“Kita beri pemahaman kepada adik-adik kita pentingnya menjaga hutan, karena merekalah yang akan menjadi generasi penerus kita,” ujar Wati, Kamis 17 September.

Penggagas lain Bissudaeng, Alim mengatakan kurikulum sekolah itu sementara digodok, sementara pembekalan terus diberikan kepada anak-anak di Bissudaeng. Mereka akan belajar bagaimana membuat pupuk kompos, menanam tanaman herbal, dan merawat pohon.

“Kedepan kita akan berikan bibit tanaman produktif dan diajarkan bagaimana merawatnya, sehingga diharapkan nanti bisa menjadi sumber ekonomi baru,” jelas Ketua BEM Stiper Yapim Maros itu.

Bissudaeng juga bakal memaksimalkan potensi ekonomi warga lokal, dengan pelatihan pembuatan cuka nira, gula aren, arang cangkang kemiri, tanaman organik dan potensi lainnya. “Bahan baku disini banyak, kita tinggal mengajarkan masyarakat bagaimana mengelolanya dengan baik” ujar mahasiswa Jurusan Agribisnis itu.

Pelaksana tugas Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (TN-Babul)  Abdul Rajab merespon sekolah alam ini dengan baik. ”Kegiatan ini akan sangat membantu pelaksanaan tugas  kami untuk tetap menjaga kelestarian areal hutan dan masyarakat juga bisa hidup sejahtera dari hasil memanfaatkan sumber daya yg ada disekitarnya,” tutupnya. (ris/wik) (www.fajar.co.id)