image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Artikel

Miris! Beginilah Kondisi Karst Maros-Pangkep

Goa Salukang Kallang: Foto: Dokumentasi Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung

Andi Mulatauwe Hamrullah dari Korps Pecinta Alam (Korpala) Universitas Hasanuddin, menghabiskan empat hari dalam perut karst Goa Salukangkallang. Dia bersama beberapa rekan membawa perahu karet, tabung oksigen penyelaman, hingga alat masak. Mereka memetakan sistem hidrologi air dalam kawasan karst.

Hasilnya, mereka memetakan 27 km aliran sungai bawah tanah. Ekspedisi ini dilakukan dalam festival karst yang diadakan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung pada 15 November 2015.

Mulla, sapaan akrab Andi Mulatauwe, memasuki perut karst seperti menyelinap masuk dalam dunia lain. Goa menghadirkan kehidupan dan keseimbangan alam bukan semata ceruk tempat mengalirkan air. “Memasuki Goa Salukang Kallang, akan bertemu beragam kehidupan. Ada ikan, udang, hingga serangga,” katanya.

Salah satu goa di Taman Nasional Bantimurung. Foto: dokumetasi Balai TN Bantimurung

Memetakan sistem hidrologi dalam sistem goa di karst menjadi begitu penting dalam menjaga persediaan air. Karst, adalah tangki raksasa penampung air. Siapa sangka, air yang jatuh di wisata air terjun Bantimurung, bersumber dari Salukang Kallang, berjarak puluhan kilometer.

Sistem air Salukang Kallang dikenal dengan nama Sistem Towakala. Ia bermula dari Sungai Gallang, menuju Sungai Kallang, lalu Gua VCM, mengalir ke Goa Salukang Kallang, ke Goa Lubang Kabut, Lubang Batu Neraka, Goa Tanete, Wattanang, hingga Bantimurung. Dalam kondisi normal, debit air dari sistem ini mencapai 500 liter per detik.

Namun, aliran pertama yang membuat sistem Towakala ini bermula, bersumber dari luar Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, yakni Sungai Gallang. Menurut Mulla, di sekitar Sungai Gallang, perkebunan begitu marak. Pembukaan lahan terjadi hampir sepanjang waktu. “Tak heran, dalam aliran air, kami menemukan banyak sampah, plastik dan potongan-potongan pohon.”

Sistem aliran air lainn adalah Jamala’. Sistem ini belum dipastikan, namun kemungkinan hulu bersumber dari Gunung Bulusaraung. Aliran air dari sistem ini bisa ditemukan saat memasuki kawasan wisata Bantimurung, pada bagian kiri, dengan perkiraan sekitar 1.000 liter per detik. Sistem kecil lainnya terdapat di beberapa goa dengan debit air 150 liter per detik.

Pemandangan di kawasan Karst Taman Nasional Bantimurung, Maros. Foto: Balai TN Bantimurung

Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin, Amran Achmad mengatakan, selain aliran sungai, sistem air karst dari hujan. Tipikal batuan karbonat, memiliki beberapa lubang (sinkhole) dan batuan seperti spons. Air hujan yang jatuh akan memasuki sela batuan dan mengalir ke sungai bawah tanah. “Bagaimana jika aliran ini tertutup? Itu akan menghambat porses karstifikasi, akan berdampak pada hidrologi air,” katanya.

Pembukaan lahan, maupun penebangan pohon akan membuka tutupan kawasan. Erosi hingga terjadi penumpukan sedimen. “Jadi proses tidak alami akan membuat beban lingkungan bertambah.”

Goa lenyap, ancaman mengintai

Titik koordinat Goa Tajuddin, telah ditemukan. Mereka terus mencari. “Kami menemukan goa itu. Mulutnya sudah tertutup sampah. Kami gali, mengeruk-ngeruk dengan tangan untuk terbuka kembali.”

Goa ini terletak dalam taman nasional, namun air dari Sungai Pangi di luar kawasan, bukan karst. “Saya kira persoalan rumit. Dalam kawasan taman nasional, semua terjaga baik. Namun kawasan penyangga di sekitar tidak terkontrol baik,” kata Mulla.

Ikan buta, salah satu biota di Goa Saripa. Foto: D Rigal

Tak hanya Goa Tajuddin yang mengenaskan, Goa Barombong bahkan lenyap. Barombong di luar taman nasional, namun masuk kawasan karst dan konsesi petambangan semen Bosowa. Gua ini salah satu penyimpan air.

Mengapa Barombong lenyap? Menurut Mulla, lokasi terbuka dan ditambang. “Menuju Bantimurung di jalan utama, menoleh ke kiri lokasi semen Bosowa terlihat putih karena gunung karst telah dikelupas, di tempat itulah Goa Barombong berada.”

Kehilangan satu goa, katanya, adalah sebuah bencana. Apalagi tak seorangpun memetakan sistem hidrologi air mengarah ke Goa Barombong. “Ketika itu menghilang, otomatis mempengaruhi sistem lain.”

Tak hanya goa di Maros, di Leang Londrong, Pangkep, saya melihat pipa besar memanjang memasuki mulut goa. Pipa, menorobos hingga puluhan kilomoter ke PT Tonasa (anak group PT Semen Indonesia).

Ancaman bagi biota goa

Menjaga dan menyelamat ekosistem karst tidak hanya soal kondisi air bawah tanah, juga biota karst dan goa. Peneliti Biota Goa dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cahyo Rahmadi mengatakan, di karst Maros dan Pangkep, ada puluhan biota goa endemik. Bahkan, endemistas dapat berbeda antara goa satu dengan lainnya yang berdekatan.

Goa Salukang Kallang:dokumentasi Balai Taman Nasional Bantimurung- Bulusaraung

Salah satu, kumbang khas goa (Eustra saripaensis) hingga beberapa udang hanya ditemukan di Goa Saripa. Saat ini, kondisi Saripa sebagai goa wisata cukup memprihatinkan. Letak goa di sisi jalan poros Camba–Bone dan di belakang rumah penduduk, mudah dijangkau.

Bagi para penikmat goa, Saripa dikenal memiliki dua aula besar. Beberapa kolam kecil berisi air. Lorong-lorong goa cukup rumit, bertingkat dan kecil. Selalu ada air. Beberapa waktu lalu, ketika saya memasuki goa ini, menapak kaki harus waspada. Lumpur-lumpur menempel di antara batuan hingga coretan-coretan di dinding goa. “Saya kira Saripa harus menjadi goa khusus untuk penelitian. Semacam laboratorium. Sayang sekali, biota sangat beragam dan endemik,” kata Cahyo, saat berkunjung ke Maros.

“Bayangkan, berapa orang yang memasuki goa sekadar jalan-jalan. Mereka menginjak air dan menjejak lumpur. Padahal di tempat itu bisa saja ada biota.”

Cahyo juga menuliskan kegelisahan kondisi Goa Saripa di laman www.biotagua.org April 2007. “Sebagai dampak aktivitas penelusuran di Saripa, terlihat dengan populasi udang khas dan planaria di kolam-kolam air menurun. Populasi udang sangat kecil dibandingkan penelitian 2001, 2002, dan 2003, pada waktu itu mudah kita dapat melihat udang berenang di kolam. Sekarang, mungkin hanya dua atau tiga udang bisa ditemui.”

Pemetaan Salukang Kallang. Sumber: Korpala

Ikon lain, ikan buta (Bostrychus macrophthalmus). Ikan ini ditemukan di beberapa goa, termasuk Saripa, Salukang Kallang atau Tanete. Ikan ini sangat menarik, mulut memanjang dan mata perlahan-lahan menghilang. Bahkan badan terlihat putih pucat hingga jelas tampak aliran darah.

Menurut Cahyo, ikan buta atau biota lain wujud evolusi mahluk hidup yang bertahan dengan alam dan lingkungan. “Di goa gelap, mata mulai tak berfungsi. Akhirnya ikan ini, mengembangkan upaya bertahan lain misal indra perasa dan peraba.”

Biota lain, serangga seperti jangkrik, berubah bentuk. Antena depan makin panjang melebihi ukuran badan hingga empat kali lipat. Biota goa memiliki siklus hidup lamban, karena persediaan makanan minim. Berbeda dengan satwa atau spesies kerabat mereka di luar, dengan makanan berlimpah.

Cahyo juga membandingkan endemisitas mahluk goa di beberapa negara dan antarpulau di Indonesia. Menurut dia, sistem Salukang Kallang adalah goa paling kaya biota, ada 28 jenis.

Sedang Air Jernih di Kalimantan-Sarawak 21 jenis, Ngalau Sangki (Sumatera) 20, Ma Song Dong (China) 17, Tham Chiang Dao 16, dan Batu Lubang (Halmahera) 16 Jenis.

Mengapa penting menjaga spesies goa ini? “Secara langsung mungkin sulit menjelaskan. Dalam dampak lain, menjaga lingkungan sekitar goa akan membuat semua berjalan baik, seperti kondisi air terjaga untuk kebutuhan manusia,” kata Cahyo.

Sistem Salukang Kallang memiliki delapan buah pintu masuk, hanya lima dapat dilalui, yakni K1, K2, K3, K4 dan K6. Salukang memiliki panjang sekitar 12 km. Di beberapa titik kedalaman air mencapai 12 meter. “Ini tangki raksasa air,” kata Mulla.(www.mongabay.co.id)

Penulis: Eko Rusdianto