image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.

Kawasan

-

Feature 1

Sejarah Kawasan

Juli – Oktober 1857, Wallace melakukan eksplorasi di Bantimurung. Tahun 1869, ia  mempublikasikan “The Malay Archipelago”. Setelahnya, banyak penelitian kehati di Maros.

Selengkapnya

Feature 2

Kondisi Fisik

Di bagian Barat Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dimana sekitar 75 % wilayah cakupannya merupakan areal karst, dan sisanya 25 % berupa ekosistem non karst yang menyebar di bagian Selatan.

Selengkapnya

Feature 3

Kehati

Sampai dengan tahun 2015, pada kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung telah terdaftar sedikitnya 709 jenis tumbuhan dan 730 jenis satwa liar.

Selengkapnya

Misteri Tulang Manusia di Gua Pattiro

Temuan tulang manusia di Gua Pattiro, Desa Labuaja, Maros, Sulawesi Selatan. Foto: Eko Rusdianto/Historia.

Di sebuah gua terpencil di tebing karst wilayah Maros ditemukan tulang belulang manusia dan fragmen tembikar. Diduga tempat penguburan.

PATU (60 tahun) adalah warga kampung Pattiro, Desa Labuaja, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Di rumah panggungnya dekat sekolah dasar, dia menunjukkan jalur yang hendak kami tempuh untuk membuktikan keberadaan sebuah gua, yang dipenuhi puluhan tengkorak kepala manusia.

Patu adalah informan awal mengenai gua itu. Pada dekade tahun 1980-an dia menyaksikan sendiri gua tersebut. Ceritanya luar biasa, ada tulang tengkorak yang besar. Saya bersama tim dari Taman Nasional Bantiumurung Bulusaraung (TN Babul), penuh semangat menapaki jalur kawasan karst itu. Dari mulai medan menanjak, menurun, berhimpitan di lereng tebing dan jurang, atau melewati koridor karst.

Kami menghabiskan perjalanan hingga lima jam dengan udara yang menyengat. Mulut gua itu berada di sebuah tebing curam, dengan ketinggian sekitar 50 meter. Patu menjadi orang pertama memanjat dan memasang tali untuk pegangan tim. Tapi sesampai di lokasi, tulang kepala tengkorak sudah lenyap. Di mulut gua, selasar dari daun gugur begitu tebal, tanaman merambat juga memenuhinya. Dan sebuah bongkahan tanah bercampur batu –kemungkinan mulut gua itu pernah longsor.

Chaeril, seorang staf TN Babul mencoba mengoyak-ngoyak selasar. Dia menemukan sebuah singkapan tulang dan beberapa pecahan tembikar. Pecahan tembikar itu seukuran kepalan tangan yang terbuka. Berwarna merah dengan beberapa motif. “Ini dulu guci, seperti panci tempat memasak. Saya yang pecahkan, karena mau liat tanah betulkah,” kata Patu.

Di wilayah desa Panaikang, beberapa cerita tutur sudah mengenal keberadaan gua tengkorak tersebut, dianggap keramat, dengan kisah tulang yang panjang dan besar. Serta tengkorak kepala sebesar helm standar saat ini. Tak ada yang berani menyambangi. “Jadi saya datang melihat langsung. Itu tahun 1980-an. Dan benar, banyak sekali dan tengkorak besar-besar. berjejer di sini (di mulut gua),” kata Patu.

Arkeolog Universitas Hasanuddin, Iwan Sumantri menduga jika gua tersebut pada masa lalu dijadikan tempat penguburan (secondary burial). Di mana jenazah disimpan dan dibiarkan hingga mengering, lalu tulang belulang yang tercerai berai dimasukkan ke dalam wadah. Salah satunya adalah sebuah guci yang terbuat dari tembikar.

Dari penampakan serpihan tembikar itu, kata Iwan, kemungkinan merupakan barang yang masuk ke Sulawesi Selatan. Teknologi tembikar itu diperkirakan pada kurun waktu antara abad 16-17, yang berasal dari Sukhotay, Vietnam. Pada masa itu, Vietnam di bawah pengaruh China. “Saya kira para pedagang China-lah yang membawanya dari Vietnam masuk ke Sulawesi,” kata Iwan.

Untuk menjangkau gua itu, dalam radius jarak, sebenarnya lebih dekat melalui desa Panaikang dibanding kampung Pattiro. Namun, medan dari Panaikang menuju gua hampir dipastikan jarang tersentuh, hanya para pencari lebah hutan dan penyadap nira yang melaluinya.

Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Makassar, Rustan mengatakan, temuan dari masyarakat mengenai gua yang memiliki tinggalan arkeologis sangat membantu. “Kami akan mengecek keberadaannya,” katanya.

Namun, menelisik dari fragmen tembikar yang ditemukan di gua itu setidaknya ada gambaran mengenai motifnya yang tua, meskipun tidak khusus menandakan dari mana. Namun, demikian penemuan fragmen tembikar dalam gua-gua di Sulawesi Selatan, umum dijumpai baik dari periode tua sekitar 1000 tahun sebelum masehi, hingga dekade tahun 1950-an masa pergolakan DI/TII. “Tapi temuan tulang manusia, tentu harus dianalisis lebih jauh untuk mendapatkan detailnya,” katanya.

(www.historia.id)

Penulis: Eko Rusdianto

Berita

Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung Selenggarakan Peningkatan Kapasitas MMP Dan TPHL di Aerotel Smile Hotel Makassar

Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung Selenggarakan Peningkatan Kapasitas MMP Dan TPHL di Aerotel Smile Hotel Makassar
Kepala Balai TN Babul, Sahdin Zunaidi menyampaikan materi tentang gambaran umum dan kebijakan TN Babul...
Selengkapnya...

Puncak Hari Bakti Rimbawan UPT Kementerian LHK Sulsel Gelar Upacara Bendera dan Donor Darah

Puncak Hari Bakti Rimbawan UPT Kementerian LHK Sulsel Gelar Upacara Bendera dan Donor Darah
Upacara bendera puncak peringatan Hari Bakti Rimbawan di Sulsel, Kamis (16/3/2017) Foto: Taufiq Ismail. Makasar...
Selengkapnya...

Peringati Hari Bakti Rimbawan, LHK Sulsel Gelar Senam dan Tanam Pohon di GOR Sudiang

Peringati Hari Bakti Rimbawan, LHK Sulsel Gelar Senam dan Tanam Pohon di GOR Sudiang
Sejumlah unit kerja dalam lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memperingati Hari Bakti...
Selengkapnya...

Peresmian Sanctuary Kupu-kupu dan Helena Sky Bridge oleh Sekditjen KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Peresmian Sanctuary Kupu-kupu dan Helena Sky Bridge oleh Sekditjen KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Gunting Pita pada acara Peresmian Sanctuary Kupu-kupu dan Helena Sky Bridge oleh Sekditjen KSDAE dan...
Selengkapnya...
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5

Artikel

Kelahiran Kedua Tarsius Fuscus di TN Bantimurung Bulusaraung

Kelahiran Kedua Tarsius Fuscus di TN Bantimurung Bulusaraung
Tarsius dalam kandang pengamatan di TN Babul sedang hamil tiga bulan. Foto: Eko Rusdianto Balai Taman...
Selengkapnya...

Menikmati Indahnya Matahari Tebenam dari Puncak Bulusaraung

Menikmati Indahnya Matahari Tebenam dari Puncak Bulusaraung
Keindahan matahari terbenam di Bulu Saraung RAKYATKU.COM – Meras penat dengan padatnya rutinitas yang...
Selengkapnya...

Kawanan Monyet Hitam Ini Mulai Turun ke Jalan, Ada Apa?

Kawanan Monyet Hitam Ini Mulai Turun ke Jalan, Ada Apa?
Grumphy menikmati jagung rebus di pinggir jalan. Foto: Eko Rusdianto Selasa (16/8/16), Jack, tenaga...
Selengkapnya...

Misteri Tulang Manusia di Gua Pattiro

Misteri Tulang Manusia di Gua Pattiro
Temuan tulang manusia di Gua Pattiro, Desa Labuaja, Maros, Sulawesi Selatan. Foto: Eko Rusdianto/Historia. Di...
Selengkapnya...

Harta Karun di Bentang Karst

Gatra 22 / XXII 6 Apr 2016 Bentang Karst Maros-Pangkep merupakan kawasan karst terluas di Indonesia....
Selengkapnya...
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
°F | °C
invalid location provided

Feature 4

7th Wonders

Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung mempersembahkan "7th Wonders of Bantimurung Bulusaraung National Park"

Selengkapnya

Feature 5

Ekspedisi Gua Terdalam

Ekpedisi Gua Terdalam (14 gua terdalam di luasan 50 km2).

Selengkapnya

Feature 6

Ekspedisi Gua Terpanjang

Ekpedisi Gua Terpanjang (Gua Salukang Kallang 12.263 m).

Selengkapnya