image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.

Kawasan

-

Feature 1

Sejarah Kawasan

Juli – Oktober 1857, Wallace melakukan eksplorasi di Bantimurung. Tahun 1869, ia  mempublikasikan “The Malay Archipelago”. Setelahnya, banyak penelitian kehati di Maros.

Selengkapnya

Feature 2

Kondisi Fisik

Di bagian Barat Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dimana sekitar 75 % wilayah cakupannya merupakan areal karst, dan sisanya 25 % berupa ekosistem non karst yang menyebar di bagian Selatan.

Selengkapnya

Feature 3

Kehati

Sampai dengan tahun 2015, pada kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung telah terdaftar sedikitnya 709 jenis tumbuhan dan 730 jenis satwa liar.

Selengkapnya

Harta Karun di Bentang Karst

Gatra 22 / XXII 6 Apr 2016

Bentang Karst Maros-Pangkep merupakan kawasan karst terluas di Indonesia. Keunikan menara karst yang tersebar di sebagian besar wilayah, membetot perhatian pelancong sejak lama. Penambahan status geopark nasional diharapkan memperluas jangkauan pelestarian.

Perahu motor yang dikemudikan Daeng Baso, 40 tahun, melaju pelan menelusuri Sungai Pute, Desa Salenrang, Maros, akhir Februari lalu. Di kedua sisi sungai, tampak menara-menara karst yang menjulang tinggi, yang menjadi suguhan memukau. Ada tebing yang berdiri sendiri dan ada pula yang berdampingan. Di beberapa titik, aliran sungai menyempit membelah terowongan batu.

Perahu berkapasitas enam penumpang itu terus melaju melewati terowongan. Sesekali, berpapasan dengan perahu lain bertenaga dayung. Setelah 20 menit menelusuri sungai, Daeng Baso tiba di rumahnya, di Beruah, dusun yang dikelilingi menara karst di hampir semua sisinya. Pintu masuk satu-satunya, hanya lewat Sungai Pute.

Dusun Beruah, yang lebih dikenal dengan sebutan Rammang-rammang, menjadi salah satu lokasi tepat untuk menikmati pemandangan menara karst di Maros. Dari rumah panggung Daeng Baso pemandangan bukit-bukit karst yang fantastis dengan ketinggian beragam itu menjadi suguhan tetap setiap hari.

Pagi hari, Rammang-rammang biasanya berkabut. Pancaran cahaya matahari muncul perlahan menembus kabut yang menyelimuti tebing-tebing karst. Persis seperti kata rammang, yang dalam bahasa Indonesia berarti "kabut". Refleksi gambaran tebing karst di kolam-kolam ikan di sekitar rumah Daeng Baso semakin memperindah tampilan kawasan itu. Seperti menghidupkan lukisan bergaya mooi indie atau Indonesia molek yang sempat populer di masa lalu.

Menara karst Rammang-rammang merupakan sampel fenomena geologi berupa bentangan bukit karst yang tersebar di wilayah administratif Kabupaten Maros dan Pangkep (Pangkajene dan Kepulauan), Sulawesi Selatan. Di dua kabupaten itu, kompleks menara karst menjadi yang terluas kedua di dunia setelah kompleks karst di Cina Selatan. Sekitar 43.000 hektare di antaranya, masuk dalam perlindungan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul).

Bentangan karst ini memiliki karakteristik geomorfologis khas. Bukit-bukitnya berlereng tebing curam dengan kemiringan 57-82 derajat. Keunikan itu tidak terlepas dari fenomena geologi di masa lampau. Hasil penelitian menunjukkan, intensitas patahan yang tinggi akibat pengaruh tektonik menjadi penentu. Pengangkatan dasar laut hingga memunculkan tower-tower karst yang bisa dilihat saat ini.

Selain indah dipandang, kawasan karst Maros-Pangkep juga bermanfaat langsung bagi masyarakat sekitar. Terutama dari sifat karst yang menjadi kantong penampung air alami. Karst Maros-Pangkep menjadi hulu sejumlah sungai besar, yakni Sungai Pattunuang, Bantimurung dan Pute.

Di sekitar rumah warga dusun, hamparan luas sawah dan empang menjadi lahan untuk mencari nafkah. Wajar, karena kawasan ini hampir tak pernah kering, bahkan ketika musim kemarau. Selain sebagai jalur transportasi, Sungai Pute dan beberapa mata air kecil di lereng karst menjadi sumber penghidupan bagi Daeng Baso dan semua warga Rammang-rammang.

Kekayaan air itu merupakan dampak dari karsifikasi (pembentukan karst) yang diprediksi bermula pada zaman Encene sampai Miocene awal, sekitar 56 sampai 18 juta tahun lalu. Sebuah proses panjang yang menghasilkan lorong-lorong seperti gua berisi stalakmit, stalaktit, pilar, batu alir dan endapan traventin (jenis batu kapur). Lorong gua itu juga menjadi saluran dan penampungan air.

Gelap total. Itu menjadi frasa paling tepat untuk menggambarkan intensitas cahaya di perut gua Suleman, Desa Samangki, Maros. Ketika senter dan headlamp menyala, lorong bertekstur kasar mulai menampakkan wujud. Sejumlah stalaktit bergelantungan bagai kerucut terbalik yang menempel di langit gua. Bersambut stalakmit yang tumbuh lambat dan meruncing dari lantai gua.

Dalam gua bertipe horizontal dengan kedalaman 500 meter itu, proses karsifikasi terlihat jelas. Di dinding batu terdapat stalaktit muda berusia di bawah 5 tahun. Berwarna putih seperti kristal yang ditempeli bulir-bulir air. Panjangnya kurang dari sejengkal orang dewasa. Butuh waktu ribuan bahkan jutaan tahun hingga kristal-kristal tersebut membatu, lalu memanjang menjadi sebuah stalaktit.

Masuk lebih dalam lagi terdapat kubangan-kubangan berlumpur dan berair. Rembesan air dari permukaan tanah juga terdapat di lorong-lorong gua yang masuk dalam kawasan TN Babul itu. Sayangnya, di lantai gua, banyak stalakmit dan stalaktit yang patah akibat ulah manusia. Pado, 35 tahun, pegawai honorer TN Babul yang menemani Gatra menelusuri Gua Suleman menyebut, stalakmit dan stalaktit itu patah akibat ulah para pemburu batu akik. ''Mereka mengira stalakmit itu bisa digosok dan jadi batu cincin. Padahal, itu batu kapur,'' katanya.

Kondisi mengenaskan ini didukung oleh lokasi Gua Suleman yang dekat dengan jalan poros Maros-Bone. Tinggal berjalan mendaki sekitar 300 meter dari tepi jalan ke arah lereng perbukitan karst.

Kondisi serupa terjadi di gua Saripa yang berlokasi tidak jauh dari Gua Suleman. Banyaknya orang yang masuk, membuat kealamian Saripa terganggu. Bahkan, ada pengunjung yang mencoret-coret dinding gua dengan cat. Demi mengantisipasi kerusakan lebih parah, Balai TN Babul menutup akses masuk Saripa untuk sementara.

Padahal, gua tipe horizontal-vertikal dengan kedalaman 1.736 meter itu merupakan laboratorium alami yang sangat kaya. Selain keindahan stalakmit dan stalaktitnya, di dalam gua terdapat banyak kubangan air yang menjadi habitat sejumlah satwa khas gua. Seperti ikan buta dan kepiting buta. Presiden Indonesian Speleological Society (ISS) Dr. Cahyo Rahmadi mengatakan, gua Saripa sangat cocok dijadikan sebagai laboratorium alam biospeleologi.

Keunikan gua dan ekosistem karst di Maros juga tercermin dari sejumlah temuan berbagai penelitian. Cahyo yang pernah terlibat dalam penelitian bersama LIPI di Maros mengatakan, beberapa satwa di gua itu merupakan temuan jenis baru dan endemik. Sebut saja ikan pelangi maros (Marosatherina lagidesi) dan kecoa air (Cirolana marosina botosaneanu). ''Nama latinnya juga pakai kata Maros,'' katanya.

Selain menjadi laboratorium alam, keunikan lorong-lorong gua memang berpotensi menjadi destinasi wisata minat khusus. Seperti di Gua Suleman dengan lorong-lorong sempit berbatu tajam. Berjalan menunduk, berjongkok dan memiringkan badan, memberikan kesan sekaligus tantangan menarik bagi para penelusur gua.

Apalagi, kawasan karst Maros-Pangkep memiliki setidaknya 250 gua alam sebagai pilihan destinasi. Dua di antaranya telah ditabalkan sebagai ikon utama kawasan TN Babul. Yaitu, Salukkang Kallang, gua berisi aliran sungai dengan panjang lorong sekitar 12 km serta Leang Pute yang berkedalaman vertikal 275 meter. Ada pula sejumlah gua dengan peninggalan purbakala. Satu kawasan yang paling populer adalah Leang-leang dengan dua gua berisi lukisan cap tangan dan gambar babi rusa di dinding dalamnya.

Namun, wisata gua harus disertai pengetahuan akan konsep pelestarian. Misalnya, tidak sembarangan menyentuh stalakmit dan stalaktik karena mengganggu proses karsifikasi. Jumlah pengunjung yang masuk juga harus dibatasi untuk mengantisipasi perubahan suhu dan kepadatan lantai gua. Alasannya, banyak biota dan satwa yang menjadikan gua sebagai habitat. ''Harus ada tata cara yang benar dalam penelusuran gua,'' kata Cahyo.

Upaya identifikasi dan pemetaan gua selayaknya digalakkan. Tujuannya, agar ada pengklasifikasian cara pemanfaatan setiap gua di Maros-Pangkep dan wilayah lain di Indonesia. Misalnya, pembedaan antara gua tujuan wisata dan gua lain yang lebih ke arah penelitian atau laboratorium alam.

''Kita mulai di internal dulu,'' kata Kepala Bagian Tata Usaha TN Babul Dedy Asriady. Dia menyebut, Taman Nasional menyadari pentingnya pengetahuan akan tata cara penelusuran gua. TN Babul berbenah dengan mengadakan pelatihan penelusuran gua bagi 60 karyawannya.

Pemberdayaan masyarakat lokal juga perlu diperhatikan. Sebuah program yang dimulai pada 2007 silam mengarah pada perekrutan kader konservasi. Sebanyak 120 orang yang berlatar belakang mahasiswa pecinta alam, siswa pecinta alam, guru dan kepala desa di sekitar kawasan diberi pelatihan dan pemahaman konservasi. Harapannya, kader-kader itu bisa menularkan ilmu konservasi kepada lapisan masyarakat lain.

Ada juga pemberdayaan pada penyedia jasa wisata di sekitar kawasan. Seperti program bimbingan bagi 60 orang pemandu wisata dan penjual suvenir. Arahnya pada tata cara penyambutan wisatawan. Juga terkait konservasi dan pemanfaatan kupu-kupu yang menjadi ikon TN Babul. ''Salah satu renstra (rencana strategis) kami adalah sebagai destinasi ekowisata karst,'' katanya.

Praktik pemberdayaan masyarakat ini bisa dilihat di Desa Tompo Bulu, Pangkep yang berjarak sekitar 70 km dari Makassar. Sebelas pemuda lokal yang tergabung dalam Kelompok Ekowisata Dentong telah berkali-kali mendapat pelatihan dari Balai TN Babul dan Dinas Pariwisata Pangkep. Fokusnya, pada pemahaman tentang konservasi dan ekowisata.

Sejak 2010, Kelompok Dentong melibatkan diri sebagai pelaku ekowisata di kawasan TN Babul. Khususnya sebagai penyedia home stay dan pemandu ke berbagai destinasi wisata alam di sekitar Tompo Bulu. Seperti di puncak Bulusaraung (1.353 mdpl) yang merupakan salah satu titik tertinggi di kawasan TN Babul.

Jalur pendakian sepanjang 2 km itu bermula dari menyusuri tanggung-tanggul persawahan warga. Lalu, memasuki kerimbunan hutan yang berada di zona inti TN Babul. Terdapat 10 pos pendakian dengan karakteristik jalur beragam di antara masing-masing pos. Ada yang mendatar dan ada pula yang mendaki hingga kemiringan 80 derajat. ''Cocok untuk pendaki pemula,'' kata anggota Komunitas Ekowisata Dentong, Samsuar, yang memandu Gatra ke Bulusaraung..

Di sepanjang jalur, suara serangga hutan dan kicauan burung menjadi pengiring pendakian. Sesekali, kera hitam (Macaca maura) terlihat bergelantungan di dahan-dahan pohon. Butuh dua-tiga jam berjalan untuk sampai di puncak Bulusaraung.

Jika cuaca cerah, Bulusaraung menjadi lokasi bagus untuk melihat gundukan bukit karst yang tersebar di ketinggian lebih rendah. Namun, di musim penghujan, hanya awan putih yang terlihat. Maklum, dalam bahasa Bugis-Makassar, Bulusaraung berarti gunung yang dipayungi awan.

Selain pesona Bulusaraung, Tompo Bulu juga dikenal sebagai desa wisata dengan budaya dan kearifan lokal yang khas. Bahasa lokal sehari-harinya saja sudah mencerminkan kekhasan itu. Yakni, bahasa Dentong yang merupakan perpaduan bahasa Bugis dengan Makassar.

Warga Tompo Bulu juga masih menjalankan tradisi-tradisi kuno pada waktu tertentu. Misalnya upacara menumbuk padi mengkal atau Mappadendang yang digelar sebelum panen raya. Tumbukan-tumbukan padi dalam lesung menimbulkan bunyi-bunyian seperti orang berdendang.

Di desa berpenduduk muslim ini, upacara pernikahan juga menjadi suatu yang unik. Samsuar menyebut, prosesi pernikahan selalu dilakukan pada hari Jumat sebagai hari sakral bagi umat Islam. Selain itu, setiap pasangan yang baru menikah wajib bertanggung jawab pada kelestarian alam. Mereka harus menanam sembilan jenis pohon setelah melangsungkan pernikahan. Pohonnya boleh apa saja, yang jelas harus sembilan jenis.

Tradisi bersyukur atas nikmat yang diberikan alam juga ditemukan di Kecamatan Segeri, Pangkep. Sebuah upacara tanam padi, Mappalili, rutin diselenggarakan setiap November. Dalam Mappalili, masyarakat bisa menyaksikan semacam atraksi debus dan tarian dibawakan para pemuka adat Bugis. Mereka dikenal dengan sebutan bissu.

Juleha, 49 tahun, keluar rumah mengenakan sarung merah. Badannya yang tegap dibalut kemeja putih polos. Rambutnya ditutupi sorban yang juga putih. Sebagai pimpinan komunitas bissu di Segeri, dia tidak boleh berbusana sembarangan saat menerima tamu.

Lahir dengan nama Jumaise, dia mulai belajar tentang ilmu bissu sejak duduk di bangku sekolah. Waktu itu, dua orang bissu terkemuka bernama Wak Made dan Haji Jemma melihat adanya ''pertanda'' dalam diri Jumaise. Kedua bissu itu lalu merekrut dan mengajari dia tentang ilmu bissu. ''Itu sekitar tahun 1985,'' katanya kepada Gatra ketika berbicara di balkon rumah panggungnya, Desa Padalampe, Segeri.

Juleha bercerita, panggilan Bissu berasal dari bahasa Bugis yakni bessi yang berarti "suci". Karena itu, setiap Bissu dilarang menikah. Mereka tidak beranak dan tidak memperanakkan. Dalam tradisi Kerajaan Segeri, Bissu diposisikan sebagai penasihat raja. Tugas lainnya, menyelenggarakan sekaligus memimpin tradisi-tradisi kuno seperti Mappalili. ''Mappalili tidak bisa berjalan tanpa Bissu,'' katanya.

Di luar aktivitasnya sebagai bissu, Juleha tetap bekerja untuk menyambung hidup. Dia berprofesi sebagai penata rias pengantin. Bahkan, ketika Gatra menelusuri Segeri untuk mencari rumah sang pemimpin bissu, kebanyakan warga tidak mengenal dia sebagai pemuka adat. Warga lebih mengenal Juleha si perias pengantin.

Ketidakpopuleran sang bissu dikarenakan keberadaannya yang lambat-laun semakin berkurang. Tercatat, tinggal 12 bissu di Segeri. Bahkan, hanya delapan yang masih aktif untuk menjalankan tradisi adat. Itu terjadi karena adanya perbedaan sudut pandang dalam memahami karakter dan perilaku bissu.

Berdasarkan Illagaligo, epos kuno masyarakat Bugis, bissu disebut sebagai perantara. Dalam hal ini, perantara dewata dengan manusia serta perantara laki-laki dan perempuan. Sehingga, seorang bissu pasti dicirikan dengan jenis kelamin laki-laki namun berjiwa perempuan. ''Semua bissu pasti calabai (waria). Tapi semua calabai belum tentu bisa menjadi bissu,'' kata Juleha.

Masuknya agama ke dalam budaya Bugis kuno memengaruhi eksistensi bissu. Misalnya, pada masa pemberontakan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) Sulawesi Selatan yang dipimpin Kahar Muzakar, banyak bissu yang diburu. Ciri bissu sebagai calabai dianggap bertentangan dengan ajaran Islam. Belum lagi, kecenderungan bissu yang mengagung-agungkan mustika arajang sebagai benda berkekuatan gaib. ''Sebenarnya bissu itu bagian dari budaya, bukan agama,'' ujar Juleha. ''Agama saya Islam,'' katanya, menegaskan.

Beruntung, saat ini, Pemerintah Daerah Pangkep menjadikan tradisi Mappalili sebagai festival rutin. Eksistensi bissu sebagai pelaksana Mappalili ikut terlindungi. ''Mappalili dan Bissu, bisa dibilang sebagai ikon utama pariwisata Pangkep,'' kata Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwsata Pangkep Ahmad Djaman.

Sambil menjinjing kantung plastik berisi parutan jagung, Hendra, 31 tahun, bersiul-siul nyaring. Petugas honorer TN Babul itu sedang memanggil kelompok penghuni tertentu dari hutan Karaenta, Maros. Lima belas menit kemudian, dari dalam hutan terdengar suara-suara berdecit, menaggapi siulannya. ''Itu Mereka!'' ujarnya, antusias.

Mereka adalah sekelompok kera hitam yang dengan tingkah riuh mendekati Hendra. Ada yang berlari dan ada pula yang meluncur menuruni batang pohon. ''Jangan terlalu banyak bergerak, biar macaca tidak takut,'' katanya.

Hendra lalu menyebar parutan biji jagung ke arah gerombolan kera itu. Hitung punya hitung, semuanya berjumlah 34 ekor. Ada yang masih kecil dan ada pula yang sudah tua dengan bulu mulai memutih.

Jika tidak ada pengunjung, kera-kera itu biasanya mencari makan sendiri. Sejumlah tanaman liar seperti jambu hutan, langsat, dan kayu manis yang ada di Karaenta menjadi santapan mereka. Selain itu, jenis tumbuhan hutan bernama pikus (Ficus sp) juga menjadi pakan favorit. ''Tidak boleh sering dikasih jagung agar mereka tidak ketergantungan,'' kata Hendra. ''Kalau ada tamu, baru kita pancing pakai jagung.''

Puluhan macaca yang menuruti panggilan Hendra itu, tergabung dalam kelompok B. Satu dari tujuh kelompok kera hitam di Karaenta yang telah diidentifikasi. Ratusan kelompok lain tersebar di sejumlah lokasi. Banyak di antara mereka yang bersarang di tebing-tebing karst sehingga sangat sulit diamati. ''Setiap kelompok punya wilayah masing-masing. Kalau bertemu bisa tawuran,''jelasnya.

Pemahaman Hendra pada macaca, tidak perlu disangsikan lagi. Selain kerap mendampingi peneliti lokal dan mancanegara, keluarga Hendra juga punya ikatan kuat dengan macaca. Ayahnya yang pensiunan polisi hutan, juga menjadi pawang macaca di hutan Karaenta sejak 1985 silam.

Kelompok B yang tergolong paling jinak menjadi objek penelitian paling favorit. Ada penelitian tentang perilaku macca jantan dewasa dan ada yang meneliti fase kehamilan kaum betina. Hampir semua kera dalam kelompok B diberi nama oleh para penelitinya. Salah satu yang paling tua yang bulu-bulunya berwarna putih, malah dinamakan "Hendra". Sama dengan nama sang pawang.

Selain paling jinak, habitat macaca kelompok ini, paling mudah diakses. Markasnya hanya berjarak sekitar 500 meter dari jalan poros Maros-Bone. Tepatnya di wilayah administratif desa Labuaja, kecamatan Cendrana, Maros. Sayangnya, posisi ini justru berisiko besar bagi keselamatan macaca. Hendra menunjuk macaca tua berusia sekitar 30 tahun. Ketika berjalan macaca terlihat pincang. Itu akibat tertabrak kenderaan saat menyebarangi jalan poros. ''Mereka memang cari makanan sampai ke pinggir jalan,'' katanya.

Keberadaan jalan poros Maros-Bone memang dilematis bagi kelestarian kawasan karst Maros-Pangkep. Prof Dr Amran Achmad dari Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin menyebut, keberadaan jalan sangat penting sebagai jalur distribusi barang. Namun, dari sisi konservasi, pembangunan jalan itu, bisa saja, mengganggu kelestarian lingkungan hidup.

Seperti yang terjadi sekarang, yakni pembangunan dan pelebaran jalan yang beririsan dengan kawasan TN Babul, termasuk hutan Karaenta. Amran --yang tergabung dalam Tim Independen Kementerian Kehutanan dan bertugas menganalisis rencana pembangunan jalan-- melihat adanya sejumlah tindakan yang mengancam habitat macaca.

Di beberapa titik, pembangunan jalan sepanjang puluhan kilometer itu berpotensi memusnahkan tumbuhan pakan seperti pikus. Itu bisa berdampak pada migrasi macaca untuk mencari teritorial lain. ''Artinya, berpotensi bertemu dengan kelompok macaca lain dan akan berantem,'' kata pria yang tercatat sebagai salah satu pencetus terbentuknya TN Babul itu.

Amran menyarankan, pelebaran dan pembangunan jalan di wilayah TN Babul harus didasari kajian mendalam tentang keberadaan gua dan tanaman pakan satwa. Jika salah satu harus dikorbankan, kelestarian gua harus diutamakan. ''Gua tidak dapat diperbaharui. Sedangkan pakan satwa bisa ditanam kembali,'' katanya.

Penyebaran pakan satwa di hutan Karaenta, tidak lepas dari fenomena geologi yang terjadi di masa lampau. Amran Achmad pernah meneliti perbedaan sifat fisik batuan dengan flora yang tumbuh di atasnya. Dia membedakan empat jenis batuan utama yang tersebar di bentang karst Maros-Pangkep. Yakni, batuan karbonat massif, porous, berlapis, dan metagamping.

Batuan karbonat massif dan porous merupakan jenis batuan dengan pori-pori yang lebih besar dibanding karbonat berlapis dan metagamping. Penyebaran batuan ini ditemukan di wilayah Maros dan Karaenta. Alasannya, sebelum masa pengangkatan dari dasar laut, wilayah ini berada pada jalur arus rendah yang ditumbuhi ganggang hijau. ''Jenis ini mudah terlarut oleh air hujan dan menimbulkan pori,'' katanya.

Sementara itu, dua jenis batuan lain, yakni karbonat berlapis dan metagamping kebanyakan ada di wilayah Pangkep. Di masa lampau, arus laut di daerah ini cenderung deras sehingga biota laut kesusahan untuk menjadikan tempat itu sebagai hunian. Banyak biota laut yang hanyut ke wilayah itu. Biota itu bertumpuk dan membatu. ''Ketika terangkat ke permukaan, fisik batuannya lebih padat dan susah larut oleh air,'' katanya.

Penelitian Amran menunjukkan, tumbuhan di kawasan karst Maros-Pangkep telah membentuk habitat sendiri berdasarkan jenis fisik batuan tempat tumbuhnya. Ekosistem hutan bukit kapur di kawasan ini sangat khas dan cenderung berbeda dari tumbuhan di ekosistem hutan lain.

Dia mencatat, ada 199 jenis tumbuhan yang tersebar di hutan bukit kapur Maros-pangkep. Sembilan persen di antaranya merupakan jenis tumbuhan yang bisa digunakan untuk kepentingan komersial seperti kayu untuk bahan bangunan. Selain itu, ada 27% yang dimanfaatkan sebagai obat-obatan, 9% untuk bahan makanan dan minuman, serta 15% buat pakan hewan tertentu, termasuk macaca, tarsius dan kupu-kupu. Wajar, jika banyak kupu-kupu bermukim di sana.

Naturalis berkebangsaan Inggris, Alfred Russel Wallace, pernah menetap untuk menginventaris jenis kupu-kupu di Maros, Juli - November 1857 silam. Dia melaporkan adanya 256 jenis kupu-kupu di berbagai lokasi, termasuk Bantimurung. Bahkan, Wallace memberi julukan pada kawasan karst Maros sebagai kingdom of butterfly atau kerajaan kupu-kupu.

Namun, temuan Wallace itu ternyata menjadi pekerjaan rumah yang berat bagi peneliti keanekaragaman hayati TN Babul Kama, Jaya Saghir. Sebab, berdasarkan catatannya, dari berbagai pengamatan dan penelitian yang dilakukan pada 1977 hingga 2007, di hutan bukit kapur Bantimurung, hanya tercatat 149 jenis kupu-kupu. ''Ada yang menyebut, kupu-kupu di kawasan ini telah banyak yang punah,'' katanya.

Akhirnya, Kama Jaya bersama Balai TN Babul melakukan penelitian baru selama tiga tahun. Hasilnya, ditemukan 240 jenis kupu-kupu yang tersebar di beberapa lokasi di kawasan TN Babul. ''Wallace memang tidak merinci lokasi-lokasi tempat menemukan 256 jenis kupu-kupu itu,'' katanya. ''Dugaannya, tidak semua berasal dari Bantimurung,'' katanya.

Selain cerita tentang kupu-kupu, Wallace juga mendeskripsikan keindahan bentangan karst di Maros sebagai suguhan yang fantastis. Dalam karya fenomenalnya bertajuk The Malay Achipelago disebutkan bahwa pesona alam Maros mampu membuat dia sangat gembira. ''Aku jarang merasa senang lebih dari ketika aku tinggal di sini,'' tulisnya.

Terlepas dari segala keindahan dan problematikanya, sebagian kawasan karst Maros-Pangkep sudah terlindungi dengan statusnya sebagai kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Namun, ''pengamanan'' kelestarian tersebut tetap perlu diperkuat. ''Kalau ditambah lagi dengan label geopark, tentunya akan bagus,'' kata Amran.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan, Drs Jufri Rahman, mengatakan bahwa pengusulan label geopark sebagai inisiasi Kementerian ESDM bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dua kementerian ini juga telah mengirim tim untuk mengompilasi unsur-unsur penting sebagai kriteria penetapan geopark. Keanekaragaman hayati, warisan geologis serta budaya. Wilayah yang akan dilabeli geopark meliputi seluruh kawasan TN Babul serta Rammang-rammang. Namun, prosesnya baru sebatas pendaftaran sebagai bagian dari 10 geopark nasional.

Hanya saja, eksploitasi yang massif di sekitar kawasan berpotensi mengancam kelestarian. Sebut saja, keberadaan sejumlah tambang semen dan marmer yang menjadikan batuan kapur sebagai bahan baku. ''Status geopark juga akan jadi legitimasi promosi dan pencitraan bagi pariwisata,'' katanya.

Apalagi, potensi wisata di bentangan karst Maros-Pangkep cukup besar. Pada 2015, kunjungan wisata ke kompleks air terjun Bantimurung saja, berkisar 328.000 Total penghasilannya mencapai Rp 6,4 milyar. Untuk keseluruhan wilayah Maros, kunjungan wisata di tahun sama berkisar 346.000 pengunjung. Sementara di Pangkep mencapai 43.000 kunjungan.

Sebagai persiapan, pemerintah daerah melakukan beragam sosialisasi sadar wisata ke masyarakat. Seperti bagi Daeng Baso yang mempelopori pembentukan Komunitas Sadar Wisata Rammang-rammang, dua bulan lalu. Bagi dia, mulai maraknya kunjungan wisatawan memberikan tambahan pendapatan.

Malam itu, setelah menyantap ikan mujair goreng hasil pancingan, Daeng Baso terlihat mulai mengantuk. Esok hari dia harus menjalani kegiatan rutin, mengantar pengunjung yang penasaran atas keindahan bentang alam kars Maros, dengan perahunya. Perlahan, Daeng Baso beranjak dari kursi plastik lalu berjalan merapatkan pintu rumah. ''Tidak perlu dikunci. Di sini aman,'' ucapnya. (arsip.gatra.com)

Penulis: Edmiraldo Siregar Fotografer: Eva Agriana Ali

Berita

Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung Selenggarakan Peningkatan Kapasitas MMP Dan TPHL di Aerotel Smile Hotel Makassar

Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung Selenggarakan Peningkatan Kapasitas MMP Dan TPHL di Aerotel Smile Hotel Makassar
Kepala Balai TN Babul, Sahdin Zunaidi menyampaikan materi tentang gambaran umum dan kebijakan TN Babul...
Selengkapnya...

Puncak Hari Bakti Rimbawan UPT Kementerian LHK Sulsel Gelar Upacara Bendera dan Donor Darah

Puncak Hari Bakti Rimbawan UPT Kementerian LHK Sulsel Gelar Upacara Bendera dan Donor Darah
Upacara bendera puncak peringatan Hari Bakti Rimbawan di Sulsel, Kamis (16/3/2017) Foto: Taufiq Ismail. Makasar...
Selengkapnya...

Peringati Hari Bakti Rimbawan, LHK Sulsel Gelar Senam dan Tanam Pohon di GOR Sudiang

Peringati Hari Bakti Rimbawan, LHK Sulsel Gelar Senam dan Tanam Pohon di GOR Sudiang
Sejumlah unit kerja dalam lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memperingati Hari Bakti...
Selengkapnya...

Peresmian Sanctuary Kupu-kupu dan Helena Sky Bridge oleh Sekditjen KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Peresmian Sanctuary Kupu-kupu dan Helena Sky Bridge oleh Sekditjen KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Gunting Pita pada acara Peresmian Sanctuary Kupu-kupu dan Helena Sky Bridge oleh Sekditjen KSDAE dan...
Selengkapnya...
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5

Artikel

Kelahiran Kedua Tarsius Fuscus di TN Bantimurung Bulusaraung

Kelahiran Kedua Tarsius Fuscus di TN Bantimurung Bulusaraung
Tarsius dalam kandang pengamatan di TN Babul sedang hamil tiga bulan. Foto: Eko Rusdianto Balai Taman...
Selengkapnya...

Menikmati Indahnya Matahari Tebenam dari Puncak Bulusaraung

Menikmati Indahnya Matahari Tebenam dari Puncak Bulusaraung
Keindahan matahari terbenam di Bulu Saraung RAKYATKU.COM – Meras penat dengan padatnya rutinitas yang...
Selengkapnya...

Kawanan Monyet Hitam Ini Mulai Turun ke Jalan, Ada Apa?

Kawanan Monyet Hitam Ini Mulai Turun ke Jalan, Ada Apa?
Grumphy menikmati jagung rebus di pinggir jalan. Foto: Eko Rusdianto Selasa (16/8/16), Jack, tenaga...
Selengkapnya...

Misteri Tulang Manusia di Gua Pattiro

Misteri Tulang Manusia di Gua Pattiro
Temuan tulang manusia di Gua Pattiro, Desa Labuaja, Maros, Sulawesi Selatan. Foto: Eko Rusdianto/Historia. Di...
Selengkapnya...

Harta Karun di Bentang Karst

Gatra 22 / XXII 6 Apr 2016 Bentang Karst Maros-Pangkep merupakan kawasan karst terluas di Indonesia....
Selengkapnya...
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
°F | °C
invalid location provided

Feature 4

7th Wonders

Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung mempersembahkan "7th Wonders of Bantimurung Bulusaraung National Park"

Selengkapnya

Feature 5

Ekspedisi Gua Terdalam

Ekpedisi Gua Terdalam (14 gua terdalam di luasan 50 km2).

Selengkapnya

Feature 6

Ekspedisi Gua Terpanjang

Ekpedisi Gua Terpanjang (Gua Salukang Kallang 12.263 m).

Selengkapnya