image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Artikel

The Spectacular Tower Karst

Bentangan karst di TN Bantimurung Bulusaraung yang berbentuk menara. Separuh dari luas kawasan konservasi ini adalah ekosistem karst. Foto: Indra Pradana.

Keberadaan kawasan karst di Indonesia memiliki nilai yang sangat strategis. Selain luas potensi bentang alam karst Indonesia 154.000 km2 setara dengan 0.08% dari luas daratan Indonesia, karst memiliki potensi yang bukan saja unik dan khas tetapi juga sangat kaya dengan sumberdaya alam baik itu hayati maupun non hayati.

Karst adalah daerah yang terdiri atas batuan kapur yang berpori sehingga air dipermukaan tanah selalu merembes dan mengalir ke dalam tanah. Karst juga dapat diartikan sebagai sebuah bentuk permukaan bumi yang pada umumnya dicirikan dengan adanya depresi tertutup (closed depression), drainase permukaan, dan gua. Daerah ini dibentuk terutama oleh pelarutan batuan, kebanyakan batu gamping.

Salah satu kawasan karst di Indonesia yang dikenal sebagai Kawasan Karst Maros Pangkep (KKMP) memiliki tipe menara karst (tower karst) yang terbesar dan terindah kedua di dunia setelah kawasan karst di Cina Selatan seluas ±46.200 ha, dimana ±22.800 ha KKMP termasuk dalam kawasan Taman Nasional (TN) Bantimurung Bulusaraung.

“Ngarai, jurang, dan tebing di sini berlimpah, aku tidak melihatnya di tempat lain di Nusantara. Permukaan miring hampir tidak dapat ditemukan di mana saja, dinding besar dan massa kasar batu mengakhiri semua gunung dan melingkungi lembah. Di banyak bagian ada tebing vertikal atau bahkan menjorok lima atau enam ratus meter tingginya, namun dibungkus rapat-rapat dengan permadani vegetasi”. Demikian ungkapan Alfred Russel Wallace atas kekaguman bentang karst Maros di tahun 1857 dalam bukunya “The Malay Archipelago”  tahun 1869.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh tim Asosiasi Speleologi Pyrénéene (APS), Prancis tahun 1985, KKMP memiliki bentang alam yang unik dan khas dengan tower karst, koridor karst yang panjang, gua-gua dengan ukuran besar dan terpanjang di Asia tenggara dengan dekorasi terbagus.

Dari laporan akhir tahun 2016 Balai TN Bantimurung Bulurauang mencatat tidak kurang 257 gua sudah ditemukan di kawasan karst yang ada di TN Bantimurung Bulusaraung yang terdiri dari 216 gua alam dan 41 gua prasejarah. Bahkan gua terdalam dan terpanjang di Indonesia ada di kawasan karst ini yang tercatat dalam Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) pada tahun 2015.

Diketahui dalam luasan 50 km2 terdapat 14 gua yang memiliki kedalaman lebih dari 100 meter. Di antaranya terdapat gua terdalam di Indonesia dengan pitch tunggal (single pitch) yaitu Leang Pute sedalam 263 meter di bawah permukaan tanah. Masyarakat di sekitar kawasan taman nasional ini menyebut gua dengan nama leang (bahasa Makassar).

Selain itu, terdapat gua Salukang Kallang dengan panjang 12.263 meter yang merupakan gua terpanjang di Indonesia dengan tingkat keanekaragaman hayati yang terbanyak di kawasan tropis di dunia (Bedos & Deharveng, 1992). Sistem Gua Salukang Kallang bersama Gua Tannete mempunyai 28 spesies yang telah teradaptasi di dalam gua meliputi 21 troglobion berupa biota darat khas gua dan tujuh stigobion  berupa biota akuatik khas gua.

Data gua tersebut telah bertambah di awal tahun 2017 ini, seiring telah dilakukannya pemutakhiran data sebaran gua di  kawasan Resort Minasatene oleh Tim Balai TN Bantimurung Bulusaraung. “Kami memperoleh sebanyak 193 gua yang teridentifikasi yang terdiri dari gua horizontal sebanyak 160 gua dan 17 gua vertikal, serta terdapat potensi gua horizontal yang juga memiliki gua vertical dalam satu sistem yakni sebanyak 15 gua”, ujar Chaeril, PEH TN Bantimurung Bulusaraung saat kami temui beberapa waktu lalu.

Tidak hanya menyajikan pemandangan dan fenomena bentang alam yang menakjubkan dengan gua-guanya yang spektakuler. KKMP juga memiliki peran penting yang tak tergantikan bagi kehidupan, dimana di dalamnya mengalir sungai-sungai bawah tanah, sedangkan di tebing-tebingnya banyak muncul mata air yang dimanfaatkan sebagai sumber air bersih. Air tersebut yang tidak pernah kering meskipun musim kemarau datang.

“Sistem hidrologi karst atau perguaan menjadi begitu penting dalam menjaga persediaan air bagi lingkungan dan masyarakat sekitar, sehingga penting untuk dilakukan pemetaannya. Telah banyak dilakukan eksplorasi dan pemetaan sistem hidrologi KKMP, kami akan melakukan eksplorasi dan pemetaan di beberapa lokasi lainnya. Saat ini sistem hidrologi karst yang telah dipetakan di antaranya Sistem Hidrologi Gua Salukang Kallang, Pattunuang Asue, Pangia dan Samangki”, tambah Muhammad Yunus, PEH TN BantimurungBulusaraung.

Selain itu, KKMP juga merupakan tempat hidup berbagai jenis fauna, khususnya fauna-fauna gua yang belum banyak dikenal manusia. Tercatat tidak kurang 732 fauna dan 710 flora yang telah teridentifikasi di KKMP.

Bahkan, kawasan karst ini juga bernilai tinggi di bidang arkeologi, dimana terdapat gua-gua prasejarah dan bukti-bukti otentik yang merupakan jejak peradaban manusia ribuan tahun silam. Kategori gua prasejarah dengan lukisan stensil tangan tertua di dunia yang diperkirakan berusia ±40.000 tahun juga ada di kawasan ini.

Oleh karenanya, sangatlah beralasan apabila TN Bantimurung Bulusaraung diberi juga julukan “The Spectacular Tower Karst” sebagai representasi keunikan dan kekhasan karst yang memiliki beragam fungsi. SAVE KARST!!! (ksdae.menlhk.go.id)

Daftar Pustaka

Bedos, A. and Deharveng, L. 1992. 4-Catalogue Sulawesi. In: Expedition Indonesie 90, rapport speleologique et scientifique. A.P.S. Toulouse (eds). 33-36.

Wallace, A.R. 1869. The Malay Archipelago. Macmillan. London.

Penulis: Kamajaya Shagir dan Taufiq Ismail - PEH Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung