image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Menyelisik Serangga Hingga ke Puncak Menara Karst

Pengambilan sampel serangga dengan teknik pitfall traps dan malaise traps di salah satu puncak menara karst, Karaenta. Foto: Pado

Bantimurung, 24 Oktober 2017. Serangga kecil menarik perhatian seorang dosen asal Italy, Prof. Andrea Di Guilio di Karaenta. Selama 3 minggu ia berbaik hati menggelar pelatihan dasar teknik pengambilan sampel untuk studi serangga di hutan bagi petugas Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Pelatihan ini berlangsung dari tanggal 4 Oktober sampai dengan 20 Oktober 2017.

Kedatangan ahli serangga ini bermula dari permintaan Lavinia Germani, seorang peneliti Macaca maura yang juga berasal dari Roma Tre University, Roma, Italy. Ia sedang meneliti makanan sang monyet di habitat alaminya. Ia melihat bahwa monyet endemik ini tak hanya sekedar memakan buah ataupun pucuk daun, tapi juga serangga. Serangga dikomsumsinya untuk memenuhi kebutuhan akan protein. Karenanya ia memanggil Prof. Andrea untuk membantunya. Membantu meneliti jenis-jenis serangga di Karaenta. Setelah mengetahui jenis serangganya, Lavinia akan berkonsentrasi mengamati jenis apa saja yang dimakan monyet itu.

Materi hanya disampaikan selama sehari pada pertemuan yang diadakan di kantor balai taman nasional. Peserta kemudian dilengkapi panduan lapangan selama praktek pengambilan sampel di hutan karst Karaenta. Karena terbatasnya waktu yang dimilikinya ia memanggil seorang mahasiswa untuk membantunya mengoleksi serangga di hutan karst tersebut. Kemudian melanjutkan pelatihan dasar itu. Prof. Andrea hanya menetap 2 minggu di Indonesia.

Prof. Andrea hanya bersedia melatih 3 petugas taman nasional yang berminat. Hal ini mengingat terbatasnya waktu sang ahli serangga. 3 orang kemudian mengajukan diri. Adalah Ramli, Muasril, dan Taufiq Ismail mengajukan diri mengikuti pelatihan dasar tersebut. Ketiganya adalah Pengendali Ekosistem Hutan. Setiap peserta dilatih selama sepekan. Satu peserta belajar mengoleksi serangga selama sepekan berturut – turut. Mengikuti dan belajar bersama peneliti serangga asal Roma Tre University tersebut.

Ada 3 teknik yang digunakan pada penelitian serangga di Karaenta. Teknik pitfall traps, malaise traps, dan arial net adalah nama metode yang digunakan. Teknik pitfall digunakan untuk mengoleksi serangga yang berada di dalam dan permukaan tanah. Untuk mengambil sampel serangga yang terbang digunakan metode malaise traps dan arial net. Hanya saja bedanya malaise traps dipasang beberapa hari pada lokasi strategis perlintasan serangga sedangkan arial net langsung menjaring serangga yang sedang terbang.

Pengambilan sampel dilakukan mulai dari lantai hutan, dalam gua, hingga ke puncak menara karst di hutan Karaenta. Lokasi pengambilan sampel serangga dilakukan berdasarkan daerah jelajah dan plot pengamatan pakan monyet hitam sulawesi ini. Peta pengamatan pakan monyet ini telah dibuat oleh Alexandro Albani, seorang peneliti Macaca maura kelompok G. Alexandro.

Ada dua kelompok monyet yang memiliki nama lokal Dare ini yang diteliti peneliti asing selama ini. Kelompok B dan Kelompok G adalah nama kelompok kawanan monyet yang diteliti. Tak kurang dari 12 orang peneliti asing yang sedang dan telah meneliti kedua kelompok dare tersebut.

Kelompok G memiliki daerah jelajah yang lebih luas. Kawanan ini lebih menyukai hidup di batu karst hutan Karaenta. Tak heran selama Alexandro habituasi kelompok ini didampingi oleh petugas taman nasional yang memiliki keahlian di bidang panjat tebing. Mendampingi termasuk memanjat tebing karst mengikuti kawanan monyet ini ke mana pun mereka beraktivitas.

Begitu pula Prof. Andrea dan asistennya Giulia Scarparo mengambil sampel serangga dengan menggunakan ketiga teknik tersebut di puncak menara karst. Ada 3 puncak karst yang dipanjati untuk mengambil sampel tersebut, yakni plot 1G, plot 8G, dan plot 10G. pengambilan sampel ini cukup beresiko. Beruntunglah selama memanjat tebing karst tersebut dua orang pendamping taman nasional begitu paham teknik menaklukkan tantangan itu. Peralatan panjat pun dibawa serta untuk membantu peneliti dan peserta pelatihan mencapai puncak menara karst yang tingginya mencapai 200 meter itu.

“It is new insect,” sahut Giulia saat menemukan jenis baru kala itu. Ia menunjukkan serangga yang baru dilihat kepada peserta pelatihan. Dia begitu senang saat itu, senyumnya mengembang. Mahasiswa semester akhir ini sangat telaten mengoleksi serangga yang terjaring pada perangkap yang telah dipasang. Jangkrik, semut, dan berbagai jenis kumbang yang terjerat pada jebakan yang dipasang. Kemudian diawetkan sementara pada wadah yang berisi alkohol konsentrasi tinggi.

Serangga yang telah dikumpul selanjutkan akan diteliti lebih lanjut melalui laboratorium. Tentunya melalui prosedur yang berlaku di Indonesia. Jika memungkinkan akan diidentifikasi oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jika tidak, ada prosedur yang harus ditempuh jika harus dikirim ke luar negeri.

Ke depan identifikasi serangga di lokasi lain dapat dilakukan karena monyet ini dapat dijumpai dihampir seluruh wilayah Bantimurung Bulusaraung. (ksdae.menlhk.go.id)

Sumber: Taufiq Ismail - PEH TN Bantimurung Bulusaraung