image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Resor Balocci Latih Masyarakat Tompobulu Budidaya Jamur

Resor Balocci Latih Masyarakat Tompobulu Budidaya Jamur. Foto: Balai TN Babul

Pangkep, 23 Oktober 2017. Untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung melatih masyarakat Desa Tompobulu budidaya jamur tiram. Adalah Resor Balocci gelar pelatihan budidaya jamur dalam rangka peningkatan kapasitas masyarakat desa penyangga. Kegiatan ini berlangsung dari hari Senin, 16 Oktober hingga Rabu, 18 Oktober 2017 yang diadakan di Baruga Desa Tompobulu. Pelatihan budidaya jamur dipilih karena iklimnya cocok, desa ini berada di ketinggian lebih dari 800 meter di atas permukaan laut. Selain itu, kelimpahan media tanam dan sumber air membuat lokasi desa ini sesuai untuk budidaya jamur.

Desa Tompobulu merupakan desa wisata yang berada di kaki Gunung Bulusaraung. Desa ini merupakan desa penyangga binaan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Desa ini meraih gelar juara pesona 1 dalam lomba daya tarik wisata berwawasan lingkungan pada tahun 2016 tingkat Provinsi. Prestasi yang sangat membanggakan. Lomba tersebut diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan.

Peserta dari kegiatan ini berjumlah 30 orang dengan komposisi 7 orang laki-laki dan 23 perempuan. Rencana awal menargetkan 15 perempuan dan 15 laki-laki. Pemilihan sasaran penyuluhan tetap mempertimbangkan kesetaraan gender sehingga merangkul tidak hanya masyarakat secara umum namun juga melibatkan organisasi Pembinaan Kesejahteraan Keluarga.

Narasumber kegiatan ini adalah para praktisi dan pengusaha jamur Maros yaitu Sastra Darmakusumah dan Ikhwanul Khaer. Metode yang diterapkan dalam pelatihan ini adalah partisipatif, sehingga peserta terlibat secara aktif dalam setiap materi dan praktek.

Kegiatan hari pertama, peserta pelatihan diberikan bekal pengenalan taman nasional dan pentingnya konservasi oleh kepala balai. Materi pengenalan jamur disampaikan oleh praktisi dan pengusaha jamur.

Pada akhir acara dilanjutkan dengan focus group discussion. Diskusi ini bertujuan untuk membentuk kelompok dan manajemen budidaya jamur. Peserta bersepakat untuk membagi kelompok menjadi 3 kelompok budidaya dengan mempertimbangkan kedekatan lokasi rumah. Kedekatan ini bertujuan untuk memudahkan teknis persiapan budidaya jamur. Kelompok tersebut terbagi berdasarkan kampung yang berada di Desa Tompobulu yaitu Kampung Bajeng, Kampung Tanete, dan Kampung Bulu-Bulu. Selain 3 kelompok kecil budidaya tersebut, nama kelompok gabungan disepakati bernama Asosiasi Pembudidaya Jamur Bulusaraung dengan Ketua Abdul Azis, SP.

Hari kedua, peserta pelatihan melakukan praktek pembuatan baglog, sebagai bagian persiapan media tanam jamur. Antusiasme peserta pelatihan sangat tinggi, hal ini ditunjukkan dengan rasa keingintahuan yang tinggi. Selain praktek pembuatan baglog, peserta juga diberikan materi mengenai tata cara pengukusan dan memasak baglog. Sebagai tambahan motivasi, narasumber memberikan analisis usaha dari budidaya jamur, mulai dari nilai produksi hingga nilai pemasaran budidaya jamur. Motivasi tersebut memantapkan tekad peserta untuk memulai budidayakan jamur.

Hari ketiga, praktek pengolahan jamur dilakukan untuk memberikan pengetahuan kepada peserta dalam membuat barang jadi jamur yang layak jual. Kegiatan ini dilanjutkan dengan cara inokulasi bibit jamur ke dalam baglog.

Semoga pelatihan ini bermanfaat dan memotivasi masyarakat Tompobulu untuk memulai budidayakan jamur. Dengan begitu diharapkan melalui kegiatan ini nantinya dapat meningkatkan ekonomi masyarakat sebagai mata pencaharian alternatif. (ksdae.menlhk.go.id)

Sumber: Erista Murpratiwi – Penyuluh Kehutanan Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung