image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Artikel

Lebih Dari Selusin Kupu Kupu Ekor Sriti Ditemukan

Kupu-kupu ekor sriti yang besar, Graphium (semula dinamakan Papilio) androcles, adalah salah satu jenis kupu-kupu yang indah dan sangat mengagumkan yang terdapat di kawasan wisata Bantimurung. Foto: Kamajaya Shagir

Selain karst, kupu-kupu G. androcles juga menjadi lambang Taman Nasional (TN) Bantimurung Bulusaraung. Kupu-kupu ini sangat termasyhur karena deskripsi yang menggambarkan kecantikannya yang ditulis oleh Alfred Russel Wallace, Naturalis Inggris dalam bukunya “The Malay Archipelago” tahun 1869. Saat itu mengunjungi air terjun sungai Maros (sekarang dinamakan kawasan wisata Bantimurung) selama empat hari. Tepatnya mulai tanggal 19 sampai dengan 22 September 1857:

“Bila mahluk yang indah ini terbang, ekornya yang panjang berwarna putih berkilat-kilat seperti umbai-umbai, dan bila hinggap di tepi sungai, umbai-umbai ekor itu diangkat ke atas, seperti untuk mencegahnya dari kemungkinan kerusakan. Hewan itu langka, bahkan di sini, karena seluruhnya saya tidak melihatnya lebih dari selusin spesimen dan harus mengikuti banyak di antara kupu-kupu itu naik turun tebing sungai berulang kali sebelum saya berhasil menangkapnya”.

Naturalis-Naturalis lain pun mengikuti Wallace. Sekitar Agustus 1883, atau 26 tahun kemudian, F. H. H. Guillemard, Naturalis Inggris tidak menjumpai G. androcles di antara ribuan kupu-kupu di sekitar Danau Kassi Kebo kala itu. Demikian juga yang dialami oleh S. Leefmans. Naturalis Belanda tersebut tidak menjumpai G. androcles dalam kunjungan pertamanya pada April 1925. Dalam kunjungan keduanya pada April 1926, barulah dia menemukan jenis kupu-kupu tersebut. Menurut Whitten dkk. 1987, mungkin kehadiran kupu-kupu yang juga dikenal dengan nama the giant swordtail ini dipengaruhi musim.

Hasil monitoring kupu-kupu di kawasan wisata Bantimurung oleh Pengendali Ekosistem Hutan TN Bantimurung Bulusaraung pada tahun 2010, dan 2014-2017, G. androcles selalu hadir setiap tahunnya. Pada bulan Maret rata-rata ditemukan 3 individu, Agustus rata-rata 16 individu, September rata-rata 3 individu, dan Oktober rata-rata 21 individu. Di bulan-bulan lainnya juga terkadang hadir, tapi tidak setiap tahun, namun ditemukan dalam jumlah yang besar, misalnya November 2014 sebanyak 30 individu dan Juli 2016 sebanyak 22 individu. Jumlah tersebut melampui temuan Wallace yang hanya menemukan tidak lebih dari selusin. Hasil monitoring kupu-kupu terakhir di bulan Oktober 2017, dalam waktu 2 hari pengamatan saja, G. androcles dapat dijumpai sekurang-kurangnya 34 individu. Ini merupakan jumlah perjumpaan terbesar dibandingan hasil pengamatan-pengamatan sebelumnya.

Hal tersebut menguatkan dugaan bahwa kehadiran kupu-kupu endemik Sulawesi di kawasan wisata Bantimurung tersebut dipengaruhi oleh musim. Mengingat bulan Oktober sampai dengan November adalah masa peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan. Begitu pula bulan Juli yang merupakan peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau.

Populasi kupu-kupu yang memiliki ekor sayap terpanjang dalam keluarga Papilionidae ini pun sangat dipengaruhi oleh adanya aktivitas penangkapannya di alam. Penampilannya yang menarik menjadikannya bernilai ekonomi tinggi. Seperti halnya jenis kupu-kupu lainnya, G. androcles banyak diburu oleh para penangkap.

Upaya pelestarian kupu-kupu ini pun terus dilakukan. Pengamatan siklus G. androcles di laboratorium Suaka Satwa (Sanctuary) Kupu-kupu TN Bantimurung Bulusaraung oleh Harlina pada tahun 2014 menyebutkan bahwa waktu yang dibutuhkan G. androcles dari telur hingga menjadi kupu-kupu dewasa bervariasi, mulai dari 46-65 hari. Persentase tingkat kelangsungan hidup telur, larva, prapupa, dan pupa ke tahap imago masing-masing adalah 42%, 90%, 100%, dan 70%. Nilai yang relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan tingkat keberhasilan siklus jenis kupu-kupu Papilionidae lainnya.

Tak hanya upaya pengembangbiakannya saja, perlindungan jenis ini di habitat aslinya harus terus dilakukan. Kondisi habitatnya pun perlu terus dijaga agar mampu menopang kehidupannya. Ingatlah, keindahan kepakan sayap kupu-kupu dengan ekor yang meliuk-liuk putih mengkilat ini menyuguhkan pemandangan elok yang jauh lebih memukau dibandingkan hanya melihatnya dalam pajangan bingkai. (ksdae.menlhk.go.id)

Sumber: Kamajaya Shagir dan Suci Achmad Handayani - PEH Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung