image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Menelusuri Potensi dan Pemanfaatan Jasa Lingkungan Air di TN Bantimurung Bulusaraung

Tim penyusunan buku informasi jasa lingkungan air sedang berbincang dengan pemilik usaha budidaya ikan hias di Kelurahan Biraeng, Minasatene, Pangkep. Foto: Taufiq Ismail

Bantimurung, 5 November 2017. Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung kedatangan tamu dari Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK) pada hari Rabu, 1 November 2017. Tamu tersebut adalah Ridwan, Kepala Sub Direktorat Promosi dan Pemasaran dan Agus Setiawan, Dosen Universitas Lampung yang ditunjuk Direktur PJLHK sebagai Tenaga Ahli Penyusunan Buku Informasi Potensi Jasa Lingkungan Air Volume Pertama.

Mereka telah mengunjungi beberapa potensi dan pemanfaatan jasa lingkungan air taman nasional ini. Kunjungan kali ini untuk mengumpulkan data dan informasi sebagai bahan penyusunan buku informasi potensi jasa lingkungan air di kawasan konservasi di Indonesia. Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung merupakan salah satu dari 12 taman nasional yang dipilih untuk dipublikasikan melalui buku pada volume pertama.

Adalah Abdul Azis Bakry, Kepala Sub Bagian Tata Usaha dan Iqbal Abadi Rasjid, Kepala SPTN Wilayah I dengan hangat menyambut keduanya. Setelah berkoordinasi sejenak mereka pun berkesempatan mengunjungi Kawasan Wisata Bantimurung. Melihat pemanfaatan air terjun sebagai pusat wisata tirta serta pemanfaatan air oleh Perusahaan Daerah Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Maros dan Komando Strategi Angkatan Darat (Kostrad) 433.

Kepala Balai pun menugaskan stafnya mendampingi mereka selama beberapa hari di taman nasional. Mendampingi tim ini mengelilingi kawasan taman nasional yang memiliki potensi jasa lingkungan air baik di Maros maupun di Pangkep. Adalah Mansur dan Taufiq Ismail yang menerima amanat tersebut.

Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung merupakan salah satu daerah tangkapan air yang potensial. Kehadiran ekosistem karst menjadikannya penangkap air yang efektif. Saat musim  daerah ini menangkap air kemudian menampungnya. Selanjutnya mengalirkan secara perlahan-lahan melalui sistem perguaan. Sebagian akan keluar melalui mata air yang berada di pangkal tebing karst dan sebagian lagi melalui mulut gua. Jadi tak heran jika menjumpai sejumlah gua di kawasan ini mengalir air yang tak pernah surut sepanjang tahun.

Air tersebut tidak hanya diperlukan untuk eksistensi ekosistem karst taman nasional ini namun juga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar. Masyarakat sekitar kawasan konservasi ini memanfaatkannya untuk kebutuhan rumah tangga, bertani, dan beternak. Tak hanya itu, PDAM Maros dan PDAM Pangkep, usaha cuci mobil, hingga usaha air minum dalam kemasan memanfaatkan air yang berasal dari taman nasional ini. Penelitian yang dilakukan oleh Nurhayati dkk (2010), di kawasan konservasi ini memperlihatkan nilai penggunaan oleh masyarakat dan kepentingan daerah berkisar 2 milyar per tahun.

Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung sendiri telah mengeluarkan izin pemanfaatan air (IPA) dan Izin pemanfaatan energi air (IPEA) non komersial. Sebanyak 5 IPA dan 2 IPEA telah terbit di Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II. Kelimanya izin pemanfaatan air tersebut merupakan bagian dari Program Penyedian air Minum dan Sanitasi (PAMSIMAS) yang digalakkan pemerintah daerah Maros. Izin pemanfaatan energi air sendiri berlokasi di Desa Timpuseng dan Desa Barugae, Maros.

Mata Air Ulu Wae dimanfaatkan masyatakat sekitar untuk mengairi sawah, mandi, dan cuci pakaian. Foto: Taufiq Ismail

Staf Balai TN Bantimurung Bulusaraung bersama Ridwan, Kepala Sub Direktorat Promosi dan Pemasaran Direktorat PJLHK dan Agus Setiawan, Dosen Universitas Lampung (Tenaga Ahli Penyusunan Buku Informasi Potensi Jasa Lingkungan Air Volume Pertama) mengunjungi PDAM Pangkep yang berlokasi di Kampung Leang Kassi, Kelurahan Biraeng, Minasatene, Pangkep. Di tempat yang sama mereka juga mengamati usaha budidaya ikan hias, irigasi persawahan hingga usaha terapi ikan milik warga.

Sore hari mereka ke Mata Air Ulu Wae yang berada di Kelurahan Kalabbirang, Bantimurung, Maros. Di sini mereka mengamati pemanfaatan air oleh masyarakat untuk mengairi sawah, budidaya ikan hias di alam, dan memenuhi kebutuhan air bersih rumah tangga. Keduanya terkesima dengan pemandangan gugusan tebing karst menjulang sepanjang perjalanan menuju mata air.

Keesokan harinya, mereka berkesempatan melihat pemanfaatan energi air yang dilakukan oleh masyarakat di Desa Timpuseng, Cenrana, Maros. Mayarakat desa memanfaatkan aliran Sungai Ara untuk menggerakkan turbin dan generator yang diperoleh dari bantuan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri. Mikrohidro ini mampu melayani 3 dusun di Timpuseng ini, menerangi rumah-rumah yang tak terjangkau oleh perusahaan listrik milik negara.

Mereka juga menyempatkan melihat sarana prasarana pendukung mikrohidro, mulai dari rumah pembangkit, pipa pesat, bak penampungan sementara hingga bendungan aliran air. Menuju pembangkit listrik bertenaga kecil ini tak mudah. Jalan sempit, mendaki dengan kelokan tajam di mana-mana. Zainal Arfin, Kepala Resor Camba dengan sigap mengambil alih kemudi mobil patroli yang kami tumpangi. Menaklukkan tantangan yang merintang.

Setelah berkendara masih perlu berjalan ratusan meter mendaki. Meski tertatih harus berjalan mendaki dan menurun, keduanya yang tak lagi muda akhirnya mampu juga menyambangi sarana pendukung pemanfaatan energi air ini.

“Semoga ke depan para pengambil manfaat turut serta berperan melestarikan hulu yang memiliki fungsi sebagai pengatur tata air,” ujar Ridwan, Kepala Sub Direktorat Promosi dan Pemasaran saat bersama kami di Desa Timpuseng.

Lengkaplah perjalanan tim ini melihat beberapa potensi dan pemanfaatan jasa lingkungan air di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Semoga kawasan konservasi ini terus terjaga dan lestari agar masyarakat yang menghuni di sekitarnya memperoleh manfaat langsung darinya. (ksdae.menlhk.go.id)

Sumber: Taufiq Ismail - PEH TN Bantimurung Bulusaraung