image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Populasi Macaca maura dan Tarsius fuscus Meningkat

Tujuh jenis Macaca endemik Sulawesi salah satunya adalah Macaca maura. Foto: Kamajaya Shagir

Bantimurung, 7 November 2017. Di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung telah teridentifikasi 33 jenis mamalia, terdiri dari 6 jenis dilindungi dan 11 jenis endemik Sulawesi. Dua di antaranya termasuk satwa terancam punah prioritas berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal KSDAE Nomor SK.180/IV-KKH/2015 tanggal 30 Juni 2015 yaitu Monyet Hitam Sulawesi (Macaca maura) dan Tarsius (Tarsius fuscus). Kedua mamalia tersebut sejak tahun 2013 telah dilakukan monitoring secara berkala, yaitu Macaca maura kelompok B dan Tarsius fuscus kelompok sungai Pattunuang.

Kedua mamalia yang penyebarannya terbatas di Semenanjung Barat Daya Sulawesi (Sulawesi Selatan) tersebut telah ditetapkan untuk ditingkatkan populasinya sebesar 10% pada tahun 2015-2019. Data dasar 2013 menjadi acuan peningkatan satwa tersebut sebesar 2% tiap tahunnya. Hal tersebut juga menjadi sasaran strategis yang akan dicapai sebagai Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) bidang konservasi keanekaragaman hayati Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung tahun 2015-2019.

Laporan hasil monitoring populasi satwa terancam punah prioritas Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung tahun 2013-2017 menunjukkan peningkatan. Populasi Macaca maura kelompok B tahun 2017 berdasarkan baseline data tahun 2013 meningkat sebesar 6 % (dari 34 individu meningkat menjadi 36 individu) atau rata-rata 2% setiap tahunnya. Populasi Tarsius fuscus kelompok sungai Pattunuang tahun 2017 berdasarkan baseline data tahun 2013 juga meningkat sebesar 33 % (dari 80 individu meningkat menjadi 106 individu) atau rata-rata 7% setiap tahunnya. Perpindahan individu antar kelompok, kelahiran, dan kematian oleh pemangsa lebih berpengaruh terhadap dinamika populasinya.

Meningkatnya populasi Macaca maura dan Tarsius fuscus ini tak lepas dari peran Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung melalui berbagai upaya yang telah dilakukan. Upaya yang telah ditempuh diantaranya melalui kegiatan identifikasi, inventarisasi dan pemetaan sebaran, penentuan site monitoring (permanent monitoring plot), dan monitoring populasi secara berkala. Upaya lain yang dilakukan diantaranya penyusunan baseline data, pembangunan Sanctuary Tarsius, dan perlindungan dan pengamanan (patroli dan penyuluhan). Upaya yang tak kalah pentingnya dalam meningkatkan populasi satwa tersebut adalah penyusunan rencana pengendalian invasi tumbuhan kembang kecrutan (Spathodea campanulata), dan kerjasama dengan Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar, Fakultas Kehutanan UNHAS, San Diego State University, Roma Tre University, Kyoto University, PT Semen Bosowa, PT Telkom, dan PT Pertamina.

“Pembangunan Sanctuary Tarsius fuscus telah selesai dibangun tahun ini, selanjutnya akan kami usulkan penetapan sekaligus meresmikannya,” ujar Sahdin Zunaidi, Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Semoga ke depan populasi Macaca maura dan Tarsius fuscus di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung terus terjaga kelestariannya. (ksdae.menlhk.go.id)

Sumber: Kamajaya Shagir - PEH TN Bantimurung Bulusaraung