image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Pembentukan Kelompok Pengelola Ekowisata Jene Tinaro

Rapat pembentukan Kelompok Pengelola Ekowisata Karst Belae, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Foto: Chaeril

Minasatene, 13 November 2017. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung sebelumnya telah membentuk beberapa Kelompok Pengelola Ekowisata yaitu Kelompok Pengelola Ekowisata “Dentong” di Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep pada tahun 2010. Beberapa bulan yang lalu juga telah dibentuk Kelompok Pengelola Ekowisata “Karst Leang Pute” di Dusun Pattiro, Desa Labuaja, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros.

Kali ini Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I (SPTN Wilayah I) memfasilitasi pembentukan Kelompok Pengelola Ekowisata Karst Belae di kantor SPTN Wilayah I pada  Selasa, 07 November 2017. Hadir dalam rapat tersebut kepala bidang yang mewakili Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pangkep, Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Kepala SPTN Wilayah I. Beberapa staf Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Lurah Biraeng, tokoh masyarakat beserta beberapa warga Kelurahan Biraeng juga hadir pada rapat tersebut.

Andi Waris, kepala bidang pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pangkep dalam sambutannya mengharapkan agar Kelompok Pengelola Ekowisata ini nantinya dapat mensinergikan destinasi wisata Karst Belae dengan destinasi wisata lainnya yang ada di Kabupaten Pangkep. Ia juga berharap Kelompok Pengelola Ekowisata ini dapat membantu program-program dari Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pangkep.

“Pembentukan Kelompok Pengelola Ekowisata di beberapa destinasi ekowisata Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung merupakan salah satu wujud kolaborasi tata kelola bersama destinasi ekowisata.  Bekerja bersama antara masyarakat sekitar taman nasional ini dengan Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan serta instansi terkait lainnya dengan tetap memegang prinsip kelestarian,” kata Sahdin Zunaidi, Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

“Di Karst Belae, Kelurahan Biraeng, Minasatene, Pangkep ini terdapat salah satu destinasi ekowisata yaitu Gua Kalibbong Alloa. Gua yang berada di wilayah kerja Resort Minasatene, SPTN Wilayah I ini memiliki ornamen gua yang sangat indah. Selama ini sering dikunjungi oleh wisatawan, namun perlu pengembangan dengan melibatkan masyarakat sekitar,” tambah Iqbal Abadi Rasjid, Kepala SPTN Wilayah I.

Hasil rapat pembentukan Kelompok Pengelola Ekowisata memilih 15 anggota yang berasal dari warga Kelurahan Biraeng. “Kami sepakat memberi nama Kelompok Pengelola Ekowisata Jene Tinaro yang bermakna air yang menetes dari atap gua. Saya berharap kerjasama lebih lanjut dengan Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pangkep dalam tata kelola bersama destinasi ekowisata karst Belae,” Ujar Maudu, Ketua Kelompok Pengelola Ekowisata Jene Tinaro.

Semoga dengan tata kelola ekowisata Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung bersama masyarakat ini berjalan sesuai dengan prinsip konservasi alam, edukasi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dengan begitu visi tata kelola Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung menjadi Destinasi Ekowisata Karst Dunia dapat dicapai.(ksdae.menlhk.go.id)

Sumber: Chaeril dan Saiful Bachri - PEH Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung