image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung Kembali ke Lapangan

Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung Kembali ke Lapangan. Foto: BTNBABUL

Bantimurung, 28 April 2018. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung gelar peningkatan kapasitas pengendalian ekosistem hutan di Padang Loang, Desa Bentenge, Mallawa, Maros. Kegiatan bernuansa outdoor ini digelar selama tiga hari: 24 sampai dengan 26 April 2018.

Konsep yang diusung adalah “Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung Kembali ke Lapangan” atau lebih tepatnya menyatu dengan alam. Kegiatan ini dilaksanakan full outdoor, peserta menginap di tenda, saat belajar panitia menyediakan tenda besar.

Adalah Padang Loang dipilih sebagai lokasi pelaksanaannya. Zona tradisional taman nasional ini berupa hamparan savana seluas 74 hektar yang dimanfaatkan masyarakat setempat mengembalakan sapi dan kudanya secara liar.

Peserta peningkatan kapasitas ini terdiri dari pejabat fungsional pengendali ekosistem hutan, polisi kehutanan, dan pegawai tidak tetap taman nasional. Peserta yang hadir tak kurang dari 30 orang. Personil Manggala Agni Brigade Macaca didaulat sebagai panitia pelaksana. Menambah meriahnya konsep pelatihan yang dilaksanakan di alam terbuka.

Narasumber yang diundang panitia sangat kompeten di bidangnya. Adalah Nasri, staf pengajar dari Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin Makassar menyampaikan materi analisis vegetasi. Pemateri kedua adalah Rustam, dosen pada Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, Samarinda. Dosen pada laboratorium ekologi satwa liar dan keanekaragaman hayati ini menyampaikan materi identifikasihsatwa liar dengan menggunakan kamera jebak/camera trap.

Ia lihai mengajarkan bagaimana cara menggunakan alat perekam otomatis di hutan ini. Pengalamannya menggunakan kamera jebak menyemangati peserta belajar menggunakan alat tersebut.

Saat ini Balai Taman Nasional Bantimurung telah memiliki 5 camera trap. “Saya berharap setelah pelatihan ini teman-teman sudah bisa menggunakan alat ini. Kemudian mengidentifikasi mamalia besar yang selama ini sulit kita jumpai seperti rusa (Cervus timorensis) ataupun musang sulawesi (Macrogalidia musschenbroekii) jika memungkinkan” ujar Yusak Mangetan, Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung saat pembukaan acara.

Suasana belajar begitu santai di bawah tenda besar yang disediakan panitia.  Peserta begitu antusias saat belajar menggunakan camera trap. Hari pertama saat sampai di lokasi peserta langsung berkenalan dengan camera trap, setelah menyimpan barang di tenda masing-masing. Belajar mengatur menu kamera kemudian memasangnya di tempat strategis di dalam hutan.

“Hari ini kita berkenalan dulu dengan camera trap. Kita setting kemudian kita pasang di areal yang kita duga merupakan areal lintasan satwa,” ujar Rustam, Dosen Universitas Mulawarman.

“Besok kita cek hasilnya,” tambahnya.

Hari kedua peserta belajar kedua materi kemudian praktek lapangan. Mengenal jenis pohon, praktek metode quadran, dan melakukan analisi data untuk materi analisi vegetasi.

Malamnya, Peserta kemudian mengambil camera trap yang telah di pasang sehari sebelumnya. Membuka hasil tangkapan kamera dan mengevaluasi cara pemasangan alat.

Hasil tangkapan kamera trap berupa musang tenggalung (Viverra tangalunga), dan tikus hutan. “Setelah saya evaluasi, ada beberapa cara pemasangan kamera trap terlalu tertunduk ke bawah sehingga terkadang kamera tidak bekerja maksimal,” pungkas Rustam.

“Setelah pelatihan ini saya tunggu hasil tangkapan camera trap teman-teman. Baru sehari saja kita sudah dapat foto satwa, bagaimana jika kita pasang satu bulan apalagi sampai 7 bulan,” tambahnya.

Peserta mendapat refresh materi analisis vegetasi dan mendapat ilmu baru menggunakan camera trap. Semoga ke depan kinerja pengendali ekosistem hutan dan fungsional lainnya meningkat. (ksdae.menlhk.go.id)

Sumber: Taufiq Ismail – Pengendali Ekosistem Hutan Balai TN Bantimurung Bulusaraung